Kisah kekejaman Perang Dunia I tak banyak diketahui generasi umat manusia pada era saat ini. Akan tetapi, dunia masih bisa bersyukur, di sisa-sisa akhir hidupnya, Harry Patch, mantan tentara yang terlibat dalam perang itu, sempat mengungkapkan catatannya mengenai kekejaman PD I itu.Harry Patch tutup usia pada Sabtu (25/7), di usia ke-111 tahun. Dia kemungkinan besar adalah saksi terakhir PD I, sekaligus simbol terakhir sebuah generasi yang telah hilang.
Patch adalah prajurit Inggris yang terluka pada tahun 1917 saat pertempuran ketiga di Ypres, dekat Desa Passchendaele, di Belgia. Pertempuran di tempat itu dia gambarkan sebagai ”lumpur, lumpur, dan lebih banyak lumpur yang bercampur dengan darah”.
Sejak cedera dalam perang itu hingga sehat kembali dan PD I berakhir, Patch tidak pernah mau menceritakan pengalaman maupun penglihatannya mengenai perang yang terjadi pada 1914-1918 itu. Selama perang itu, sekitar 9,7 juta pemuda tewas.
Baru ketika menginjak usia ke-100, atau 11 tahun lalu, Patch mulai mau bercerita mengenai kekejaman PD I.
Sangat trauma
Dia memang sangat trauma dengan apa yang dialaminya pada pertempuran di Passchendaele. Pertempuran itu menewaskan sekitar 325.000 tentara Sekutu dan 260.000 tentara Jerman, 31 Juli sampai 6 November 1917.
”Siapa pun yang mengatakan kepada Anda bahwa di parit-parit mereka tidak ketakutan, dia adalah pembohong besar. Anda ketakutan sepanjang waktu,” ungkap Patch dalam buku kesaksiannya, The Last Fighting Tommy”, yang ditulis sejarawan Richard van Emden.
Kementerian Pertahanan Inggris menyebut Patch sebagai tentara terakhir yang selamat dari PD I, yang menewaskan sekitar 20 juta orang. PD I itu merupakan pertempuran antara Sekutu yang dipimpin Inggris, Perancis, dan AS melawan Jerman dan sekutunya.

PM Inggris Gordon Brown (kanan) menunjuk medali di dada veteran Perang Dunia I, Harry Patch saat peringatan perjanjian damai PD I di kantor PM di Downing Street 10, London 25 Juli 2009. Harry Patch meninggal pada usia 111, Sabtu (25/7).
”Kami tidak akan melupakan keberanian dan pengorbanan yang besar dari generasinya,” ungkap Ratu Elizabeth II melepas kepergian Patch.
Tidak ada seorang pun veteran PD I dari Perancis ataupun Jerman yang masih hidup hingga saat ini. Veteran PD I terakhir AS adalah Frank Buckles dari Charles Town, yang berusia 108 tahun.
Patch, yang lahir di barat daya Inggris tahun 1898, sebelumnya adalah tukang pipa muda ketika dipanggil masuk militer pada 1916. Dalam bukunya, dia melukiskan bagaimana seorang kawannya terluka parah akibat peluru di bagian bawah tubuhnya sehingga meminta dia untuk menembaknya agar cepat mati. Dia tewas sebelum Patch mencabut revolvernya.
”Saya bersama dia 60 detik terakhir dalam hidupnya. Dia menyebut satu kata terakhir, ’Ibu’. Kata-kata itu terus teringat dalam otak saya selama 88 tahun. Saya tidak akan melupakan itu,” ungkapnya.
”Perang tak layak untuk satu pun nyawa,” kata Patch mengingatkan kepada kita semua.(AP/Guardian/OKI)/KOMPAS.COM
BACK TO HOME
Read More..






