SAKSI TERAKHIR PERANG DUNIA- I TUTUP USIA

Kisah kekejaman Perang Dunia I tak banyak diketahui generasi umat manusia pada era saat ini. Akan tetapi, dunia masih bisa bersyukur, di sisa-sisa akhir hidupnya, Harry Patch, mantan tentara yang terlibat dalam perang itu, sempat mengungkapkan catatannya mengenai kekejaman PD I itu.

Harry Patch tutup usia pada Sabtu (25/7), di usia ke-111 tahun. Dia kemungkinan besar adalah saksi terakhir PD I, sekaligus simbol terakhir sebuah generasi yang telah hilang.

Patch adalah prajurit Inggris yang terluka pada tahun 1917 saat pertempuran ketiga di Ypres, dekat Desa Passchendaele, di Belgia. Pertempuran di tempat itu dia gambarkan sebagai ”lumpur, lumpur, dan lebih banyak lumpur yang bercampur dengan darah”.

Sejak cedera dalam perang itu hingga sehat kembali dan PD I berakhir, Patch tidak pernah mau menceritakan pengalaman maupun penglihatannya mengenai perang yang terjadi pada 1914-1918 itu. Selama perang itu, sekitar 9,7 juta pemuda tewas.


Baru ketika menginjak usia ke-100, atau 11 tahun lalu, Patch mulai mau bercerita mengenai kekejaman PD I.

Sangat trauma

Dia memang sangat trauma dengan apa yang dialaminya pada pertempuran di Passchendaele. Pertempuran itu menewaskan sekitar 325.000 tentara Sekutu dan 260.000 tentara Jerman, 31 Juli sampai 6 November 1917.

”Siapa pun yang mengatakan kepada Anda bahwa di parit-parit mereka tidak ketakutan, dia adalah pembohong besar. Anda ketakutan sepanjang waktu,” ungkap Patch dalam buku kesaksiannya, The Last Fighting Tommy”, yang ditulis sejarawan Richard van Emden.

Kementerian Pertahanan Inggris menyebut Patch sebagai tentara terakhir yang selamat dari PD I, yang menewaskan sekitar 20 juta orang. PD I itu merupakan pertempuran antara Sekutu yang dipimpin Inggris, Perancis, dan AS melawan Jerman dan sekutunya.



PM Inggris Gordon Brown (kanan) menunjuk medali di dada veteran Perang Dunia I, Harry Patch saat peringatan perjanjian damai PD I di kantor PM di Downing Street 10, London 25 Juli 2009. Harry Patch meninggal pada usia 111, Sabtu (25/7).

”Kami tidak akan melupakan keberanian dan pengorbanan yang besar dari generasinya,” ungkap Ratu Elizabeth II melepas kepergian Patch.

Tidak ada seorang pun veteran PD I dari Perancis ataupun Jerman yang masih hidup hingga saat ini. Veteran PD I terakhir AS adalah Frank Buckles dari Charles Town, yang berusia 108 tahun.

Patch, yang lahir di barat daya Inggris tahun 1898, sebelumnya adalah tukang pipa muda ketika dipanggil masuk militer pada 1916. Dalam bukunya, dia melukiskan bagaimana seorang kawannya terluka parah akibat peluru di bagian bawah tubuhnya sehingga meminta dia untuk menembaknya agar cepat mati. Dia tewas sebelum Patch mencabut revolvernya.

”Saya bersama dia 60 detik terakhir dalam hidupnya. Dia menyebut satu kata terakhir, ’Ibu’. Kata-kata itu terus teringat dalam otak saya selama 88 tahun. Saya tidak akan melupakan itu,” ungkapnya.

”Perang tak layak untuk satu pun nyawa,” kata Patch mengingatkan kepada kita semua.(AP/Guardian/OKI)/KOMPAS.COM

BACK TO HOME
Read More..

AGAMA DAN TERORISME

Sudah menjadi satu ritual yang terulang, setiap ada aksi kekerasan di negara ini, para pemimpin agama tampil berdoa bersama bagi para korban sembari mengecam dan menyesalkan aksi itu.

Mereka mendemonstrasikan kesatuan dan menyatakan dengan tegas bahwa tindak kekerasan dan terorisme adalah perbuatan antikemanusiaan dan berlawanan dengan ajaran agama mana pun. Tidak ada agama yang membenarkan kekerasan.

Bersamaan dengan itu, warga pun diajak untuk tidak mengidentikkan agama tertentu dengan aksi teror dan kekerasan tertentu. Pertanyaan kita adalah apakah benar agama-agama sama sekali tidak mempunyai kontribusi dalam aksi teror yang terjadi?

Ambivalensi agama
Kita akan mudah menemukan kesepakatan bahwa sejatinya tidak ada agama yang eksplisit mengajarkan warganya untuk menggunakan kekerasan. Pada tataran normatif, agama berurusan dengan yang ilahi, yang dipandang dan disembah sebagai sumber dan tujuan kehidupan manusia. Karena memiliki Tuhan sebagai sumber dan tujuan, kehidupan manusia terlindung secara hakiki.

Dalam alur silogisme ini, tiap agama juga harus menghargai hak hidup tiap manusia. Maka, tindak kekerasan yang menghancurkan kehidupan manusia seperti terorisme adalah bertentangan dengan sikap dasar kepada yang ilahi. Orang yang membunuh orang lain dalam aksi teror tidak berhak menyebut diri penyembah Tuhan.

Persoalan yang dihadapi adalah kompleksitas fenomena keagamaan yang tidak selalu demikian terang layaknya sebuah silogisme. Agama berbicara dan merayakan yang ultim, yang tidak dapat direduksi hanya pada akal budi. Tuhan menyentuh seluruh diri manusia.

Karena itu, agama tidak hanya berbicara dan mewartakan, tetapi juga merayakan. Hanya karena itu, agama menjadi tempat perlindungan bagi manusia saat dia terancam hanyut dalam kalkulasi ekonomi, perhitungan politik, atau rekayasa ilmu pengetahuan, dan dapat menjadi inspirasi untuk pembebasan saat terjadi banjir emosi yang membutakan.

Dalam bahasa Habermas, agama membangkitkan kesadaran akan sesuatu yang hilang (das Bewußtsein von dem, was fehlt). Dia mengingatkan, manusia tidak boleh direduksi hanya pada beberapa faktor.

Dalam cirinya yang holistis serentak misterius ini, agama memiliki alur argumentasinya sendiri, yang tidak selalu dapat diterima semua orang. Masalah muncul saat agama dengan pola berpikir yang khas mengklaim diri mewakili rasionalitas manusia seumumnya.

Dengan anggapan ini, agama mudah terjebak dalam godaan untuk memaksakan semua orang menerima kebenarannya sebagai satu-satunya yang paling sesuai jati diri alamiah manusia. Yang berpikir lain dinilai terlalu angkuh atau terlalu bodoh.

Ketika banyak cara tidak mempan untuk membalikkan orang dari kebodohan atau keangkuhannya, penggunaan kekerasan pun mudah mendapat legitimasi. Dan membiarkan diri menjadi sarana untuk tujuan ini merupakan satu kemuliaan. Maka, segelintir orang rela mati demi tujuan luhur itu. Godaan ini melekat pada setiap agama. Karena itu, tiap agama memiliki kisah kekerasan dalam sejarahnya kendati sering kita mendeklarasikan, agama-agama sejatinya antikekerasan.

Menjadi peziarah
Bahaya penggunaan kekerasan, termasuk terorisme, adalah godaan laten dalam agama-agama. Karena itu, tugas paling mendesak serentak paling sulit bagi agama-agama adalah menyediakan perangkat penjelasan dalam tradisinya sendiri untuk mengakui kebebasan yang sama bagi setiap manusia dan semua kelompok.

Kerangka penjelasan itu harus digali dari tradisi sendiri sebab selama dia dipaksakan dari luar, sifatnya amat rapuh dan membentuk semacam toleransi semu. Orang lain terpaksa diterima selama dia belum dapat disingkirkan.

Toleransi seperti ini dapat dipaksakan oleh ideologi politik, relasi kekerabatan, atau simbiosis mutualis dalam sebuah sistem ekonomi. Dia berubah saat ideologi politik runtuh, relasi kekerabatan melonggar atau saat orang merasa dirugikan dalam hubungan perekonomian.

Untuk memupuk satu kehidupan bersama dalam kedamaian yang langgeng, seruan toleransi dan demonstrasi kebersamaan agama-agama amat penting tetapi belum memadai. Lebih dari itu, tiap agama harus mempertanggungjawabkan kepada para pemeluknya landasan teologis yang meyakinkan bagi penerimaan dan penghargaan terhadap semua orang dan kelompok lain.

Toleransi baru menemukan akarnya yang kuat apabila agama sanggup melihat manusia, apa pun agama dan orientasi politisnya, sebagai makhluk yang dilindungi Tuhan dan karena itu memiliki hak yang harus dihormati. Terorisme tidak menambah apa pun pada kemuliaan Tuhan, sebaliknya merupakan penghinaan terhadap-Nya.

Orientasi kepada kemanusiaan ini mendorong agama-agama untuk menempatkan dirinya dalam dialog yang hidup dengan setiap kondisi sosio-historis. Ketika kondisi sosio-historis menampakkan ciri plural yang semakin radikal seperti dewasa ini, klaim agama sebagai pemangku kebenaran absolut harus ditafsir secara baru.

Rasionalitas agama harus menjadi kesadaran fragmentaris, yang hanya dapat menunjuk kepada kebenaran absolut Tuhan tanpa bisa menggantikannya. Agama menjadi sikap manusia peziarah, bukan pengawal benteng abadi yang tak tersentuh goresan kefanaan. Peziarah mencari dalam keterbukaan, pengawal benteng abadi mempertahankan dengan menghancurkan. Selama kita memilih mempertahankan Tuhan dalam semangat pengawal benteng, bahaya laten terorisme pun tetap terpelihara.

Budi Kleden Dosen Teologi pada STFK Ledalero/KOMPAS.COM

BACK TO HOME

Read More..

BOM JAKARTA DAN TERORISME GLOBAL

Di tengah hiruk pikuk rencana kedatangan klub sepak bola terbesar Eropa, Manchester United, ke Jakarta, kita dikejutkan berita ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di sekitar Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (17/7). Diperkirakan jumlah korban 50 orang lebih, sembilan orang di antaranya tewas.

Peristiwa ini sungguh memprihatinkan kita bersama. Di tengah banyak elite sibuk bermanuver menduduki jabatan kabinet pemerintah 2009-2014, seolah kita terlena akan bahaya ancaman terorisme. Timbul kesan bahwa perhatian terhadap isu terorisme akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian bagi pemerintah, padahal terorisme setiap saat mengancam kehidupan kita.

Lagi-lagi para elite pemerintah kurang tergerak akan bahaya besar dan berkali-kali aparat intelijen juga kecolongan menghadapi ancaman besar terorisme. Artikel ini mengingatkan kembali akan peristiwa terorisme dunia yang terkait dengan kelompok Al Qaeda dan jaringannya di kawasan Asia Tenggara yang terus melakukan aksinya.

Terulang di tempat sama
Tragedi bom di depan Kedubes Australia di Jakarta, 9 September 2004, yang menewaskan sembilan orang, mengingatkan tragedi serupa yang terjadi di Bali, Oktober 2002, dengan korban tewas lebih dari 200 orang, dan Hotel JW Marriott, Jakarta, Agustus 2003, dengan korban tewas 13 orang. Bom kembali meneror Bali pada tahun 2005.

Teror bom di dua hotel elite Jakarta asal Amerika Serikat kemarin dapat diduga dilakukan oleh kelompok Jemaah Islamiyah, seperti teror-teror bom sebelumnya di Tanah Air. Jaringan ini diketahui beroperasi di negara-negara Asia Tenggara, utamanya melibatkan warga Malaysia, seperti Azahari yang telah tewas di Batu, Malang, dan Noordin M Top yang sampai sekarang belum tertangkap. Motif peledakan bom kemarin dapat diperkirakan adalah untuk mempermalukan Pemerintah Indonesia berikut aparat keamanannya, terutama karena mata dunia sebentar lagi tertuju pada pertandingan persahabatan MU dengan tim sepak bola Indonesia pada 20 Juli ini. Bom meledak di Hotel Ritz-Carlton, tempat tim MU menurut rencana akan menginap setelah meninggalkan Kuala Lumpur. Kepastian pembatalan kedatangan MU ke Jakarta kemarin tentu merupakan pukulan bagi seluruh bangsa Indonesia yang amat mendambakan kedatangan mereka.

Tentang dibomnya lagi Hotel JW Marriot bisa saja bermotif penghinaan terhadap lemahnya pengamanan di Jakarta, karena sebuah lokasi sampai mengalami dua kali peledakan bom. Padahal, keledai tak akan terantuk batu untuk kedua kalinya. Bisakah diartikan kita lebih dungu dibandingkan dengan keledai?

Terorisme global yang paling fenomenal tentu saja adalah tragedi WTC New York, September 2001, yang menewaskan sekurangnya 3.000 orang. Sebelum itu sebenarnya AS sudah beberapa kali dipermalukan dengan rangkaian peledakan bom kedutaan besarnya di Afrika dan sebuah kapal perangnya yang sedang merapat di Yaman. Semua jika dirunut adalah ekspresi kebencian tokoh Al Qaeda, Osama bin Laden, terhadap AS yang semula bahu membahu memerangi pendudukan Uni Soviet terhadap Afganistan. AS yang semula mendukung gerilya Mujahidin dan Osama, belakangan balik dianggap Osama sebagai musuh bersama umat Islam.

Lebih dari itu, seperti publikasi yang dikeluarkan oleh IISS, London dalam Strategic Survey 2004 bahwa pendudukan AS atas Irak telah mempercepat dilakukannya perekrutan jaringan Al Qaeda. Kini anggotanya telah mencapai lebih dari 18.000 militan dan siap menyerang kepentingan AS dan sekutunya di mana pun. Dalam publikasi itu berbagai aspek mengenai Al Qaeda juga disebutkan, seperti keuangan kelompok yang rapi, karena adanya peran manajer menengah yang cakap dan melatih kader di seluruh dunia. Kekuasaan Osama bin Laden pun hingga kini juga masih eksis.

Keamanan regional
Tragedi bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton kemarin telah menambah sederetan perkembangan keamanan Indonesia pascatragedi bom Hotel JW Marriott 2003 yang membawa implikasi terhadap perspektif keamanan secara regional. Dalam rangka merespons aksi-aksi terorisme, Indonesia dan ASEAN belum mengintroduksi kebijakan luar negeri dan kebijakan dalam negerinya secara maksimal.

Di tengah krisis keamanan secara regional sebagai akibat dari ancaman terorisme ini, Indonesia dan ASEAN masih menghadapi dilema yang sulit antara harus memenuhi tekanan AS dan koalisi global melawan terorisme maupun penerapan dari langkah antisipasi perang melawan terorisme dari setiap negara anggota ASEAN.

Diperlukan reformasi intelijen lain dengan melibatkan sumber daya sipil yang kredibel di bidang teknologi maju. Sebab, tingkat kesulitan melawan ancaman terorisme sangat tinggi. Aktivitas kaum teroris sangat absurd dan sulit dicerna akal sehat seperti terlihat pada serangan bom bunuh diri. Apalagi persenjataan mereka semakin canggih seiring dengan perkembangan teknologi persenjataan. Tidak tertutup kemungkinan teroris dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi akan menggunakan persenjataan kimiawi, biologis, dan nuklir yang bisa dibawa ke mana-mana.

Kredibilitas Pemerintah Indonesia di mata internasional dalam menangani isu terorisme ini akan meningkat jika ia mampu melaksanakan komitmennya dalam langkah-langkah kebijakan regional yang realistis dan strategis. Oleh karena itu, kemampuan Pemerintah Indonesia dan ASEAN untuk lebih memahami hakikat permasalahan tentang terorisme, serta kemampuan untuk mengembangkan perangkat dan aturan-aturan kelembagaan yang tepat dalam mengantisipasi ancaman terorisme masa depan.

Faustinus Andrea Staf Editor Jurnal Analisis CSIS, Jakarta/KOMPAS.COM

BACK TO HOME
Read More..

“SETIAP ORANG BISA MENJADI HEBAT”

Terdapat sebuah Prinsip Kekuatan dalam setiap orang. Dengan penggunaan yang cerdik dan pengarahan prinsip ini, orang dapat mengembangkan kemampuan mentalnya sendiri.
Manusia memiliki kekuatan di dalam dirinya, dengan kekuatan ini ia dapat tumbuh ke a rah mana pun yang diinginkannya, dan tidak ada batas kemungkinan dari pertumbuhan ini.


Belum ada orang menjadi hebat dalam bidang tertentu sampai ada orang lain yang bisa menjadi hebat darinya. Kemungkinan itu terdapat Zat Orisinal dari mana manusia dibuat.
Genius adalah Kemahatahuan yang mengalir ke dalam manusia. Genius adalah lebih dari sekedar bakat. Mungkin bakat hanyalah salah satu bidang yang lebih berkembang dari bidang-bidang lainnya, tetapi genius adalah persatuan manusia dan Tuhan di dalam tindakan jiwa.

Manusia-manusia agung selalu lebih besar daripada perbuatan mereka. Mereka berhubungan dengan simpanan kekuatan yang tanpa batas. Kita tidak tahu di mana batas kekuatan mental manusia; kita bahkan tidak tahu apakah batas ini ada.

Kekuatan pertumbuhan yang disadari tidak diberikan kepada kelompok hewan yang lebih rendah; kekuatan ini hanya diberikan kepada manusia dan bisa dikembangkan atau ditingkatkan oleh manusia. Sampai batas tertentu, hewan yang lebih rendah dapat dilatih dan dikembangkan oleh manusia; tetapi manusia dapat melatih dan mengembangkan dirinya sendiri. Hanya manusia yang memiliki kekuatan ini dan memilikinya tanpa batas.

Tujuan hidup manusia adalah pertumbuhan, sama seperti tujuan hidup pepohonan dan tanaman. Pepohonan dan tanaman tumbuh secara otomatis dan disepanjang garis lurus; manusia dapat tumbuh seperti yang dikehendakinya. Pepohonan dan tanaman hanya dapat mengembangkan kemungkinan dan karakteristik tertentu; manusia dapat mengembangkan setiap kekuatan yang dimiliki atau telah ditunjukkan setiap orang di mana pun. Tidak ada yang dimungkinkan di dalam spirit tetapi mustahil bagi daging dan darah. Tidak ada yang bisa dipikirkan manusia tetapi mustahil ditindaki. Tidak ada yang bisa dibayangkan manusia tetapi mustahil diwujudkan.

Manusia dibentuk demi pertumbuhan jadi ia wajib tumbuh. Adalah esensial bagi kebahagiaannya untuk terus maju.
Hidup tanpa kemajuan adalah hidup yang tak layak dijalani, dan seseorang yang berhenti bertumbuh adalah orang bodoh.
Semakin besar, harmonis dan utuh pertumbuhannya, semakin bahagia orangnya.


Tidak ada kemungkinan di dalam setiap manusia yang tidak dimiliki oleh setiap manusia lain; tetapi jika mereka tumbuh secara alami, tidak ada dua manusia yang akan tumbuh ke satu hal yang sama, atau menjadi sama. Setiap manusia memasuki dunia dengan sebuah predisposisi untuk tumbuh disepanjang garis-garis tertentu, dan pertumbuhan akan lebih mudah baginya disepanjang garis-garis ini dibandingkan garis-garis lainnya. Ini adalah prasyarat yang bijak, karena memberi variasi yang tanpa batas.

Ini seperti tukang kebun yang memasukkan umbi ke dalam satu keranjang; bagi seorang pengamat biasa, mereka tampak serupa, tetapi pertumbuhan akan mengungkapkan perbedaan yang mencolok. Begitu pula manusia; mereka seperti umbi-umbi di dalam sebuah keranjang. Yang satu mungkin menjadi mawar yang menambah keceriaan dan warna ke suatu sudut gelap dunia; yang lain mungkin menjadi bunga lili dan mengajarkan pelajaran cinta dan kemurnian kepada setiap mata yang memandangnya; yang lainnya mungkin menjadi tanaman rambat dan menyembunyikan garis-garis kasar bebatuan yang hitam; yang lainnya lagi mungkin menjadi pohon oak yang besar dan dirantingnya burung-burung akan membangun sarang dan bernyanyi, dan di bawah keteduhannya kerumunan manusia akan beristirahat di siang hari, tetapi setiap orang akan menjadi sesuatu yang layak, sesuatu yang jarang ada, sesuatu yang sempurna.

Ada kemungkinan-kemungkinan yang tak terimpikan di dalam kehidupan biasa di sekitar kita.; dalam artian yang lebih luas, tidak ada yang namanya orang “biasa”. Di masa krisis dan bencana nasional, pecundang yang nongkrong di warung dan pemabuk desa menjadi pahlawan dan negarawan melalui percepatan Prinsip Kekuatan di dalam diri mereka.

Di dalam setiap manusia, wanita mau pun pria, terdapat genius yang menunggu ditampilkan. Setiap wilayah memiliki wanita dan pria hebatnya sendiri; seseorang kepada siapa semua orang datang meminta nasihat di saat-saat sulit; seseorang yang secara naluriah dikenali sebagai seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan pemahaman yang hebat. Kepada akal yang hebat inilah seluruh komunitas berpaling di saat krisis; secara otomatis ia dikenali sebagai orang yang hebat. Ia melakukan hal-hal kecil dengan cara yang hebat. Ia juga dapat melakukan hal-hal yang hebat jika ia mau melakukannya; begitu pula setiap manusia; begitu pula Anda.

Prinsip kekuatan memberi kita apa pun yang kita minta darinya; jika kita melakukan hal-hal kecil, prinsip tersebut hanya memberi kita kekuatan untuk hal-hal kecil; tetapi ketika kita mencoba melakukan hal-hal besar dengan cara yang besar, prinsip tersebut memberikan semua daya yang ada.

Ada dua sikap mental yang dapat diambil oleh seorang manusia. Salah satu sikap mental ini membuat manusia seperti bola sepak. Ia memiliki kelenturan dan bereaksi kuat ketika dipapar sebuah kekuatan, tetapi ia tidak menumbuhkan apa pun; ia tidak pernah bertindak dari dalam dirinya sendiri. Tidak ada daya di dalamnya. Manusia jenis ini dikendalikan oleh situasi dan lingkungan; takdir mereka diputuskan oleh hal-hal yang ada di luar dirinya. Prinsip Kekuatan dalam diri mereka tidak pernah diaktifkan. Mereka tidak pernah bicara dan bertindak dari arah dalam.

Sikap mental lainnya menjadi manusia seperti mata air yang mengalir. Kekuatan keluar dari pusat dirinya. Di dalam dirinya terdapat mata air yang menyembur ke kehidupan abadi. Ia memancarkan kekuatan; ia dirasakan oleh lingkungannya. Prinsip Kekuatan di dalannya terus bertindak tanpa henti. Ia diaktifkan oleh dirinya sendiri (aktif diri). “Ia memiliki kehidupan di dalam dirinya sendiri”.

Tidak ada kebaikan yang lebih besar yang bisa datang kepada setiap orang dibandingkan aktif-diri. Semua pengalaman hidup dirancang oleh Penyelenggara Ilahi untuk mendorong manusia ke dalam aktif-diri; mendorong mereka untuk mengusai lingkungan mereka dan tidak menjadi makluk bentukan situasi.

Dalam tahap yang terendah, manusia adalah anak dari kesempatan dan situasi serta budak dari rasa takut.
Semua tindakannya adalah reaksi terhadap daya yang ditimpakan oleh lingkungannya. Ia hanya bertindak ketika ditindaki; ia tidak menghasilkan atau menumbuhkan apa pun.
Tetapi manusia paling primitive sekalipun memiliki Prinsip Kekuatan di dalam dirinya yang cukup untuk menguasai rasa takutnya; dan jika ia mengetahui hal ini dan menjadi aktif-diri, ia menjadi manusia yang hebat.

Tidak ada yang pernah ada pada setiap manusia tetapi tidak ada di dalam Anda; tidak ada manusia yang memiliki daya spiritual atau mental yang lebih besar dari pada yang bisa Anda dapatkan, atau melakukan hal-hal yang besar dari pada yang bisa Anda capai.
Anda bisa menjadi apa yang Anda inginkan.

Sumber: The Science of Being Great oleh Wallace D. Wattles

BACK TO HOME
Read More..

GRYBAUSKAITE, “WANITA BESI” DARI LITUANIA

Julukan ”Wanita Besi” memang layak disandang Dalia Grybauskaite. Dikenal keras dalam bicara dan sikap, Grybauskaite kini dipercaya menjadi perempuan presiden pertama Lituania. Rakyat berharap, Grybauskaite bisa membawa Lituania keluar dari krisis ekonomi terburuk di Uni Eropa.

Grybauskaite dilantik pada Minggu (12/7) setelah menang dalam pemilu 17 Mei 2009 dengan perolehan 68,18 persen suara. Ia mengalahkan lima kandidat lainnya. Perolehan itu tercatat sebagai yang terbesar sepanjang penyelenggaraan pemilu presiden di Lituania.

Grybauskaite tak punya banyak waktu untuk merayakan kemenangannya. Di depan mata, menanti dampak krisis perekonomian yang menyebabkan angka pengangguran naik drastis dari 4 persen pada 2008 menjadi 15 persen pada tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi Lituania pun diperkirakan merosot lebih dari 10 persen setelah tumbuh pesat sejak bergabung dengan Uni Eropa pada 2004.

Grybauskaite yang sudah yatim piatu itu memutuskan untuk maju setelah pecah kerusuhan di luar gedung parlemen pada Januari karena publik marah terhadap situasi perekonomian Lituania.

Perempuan lajang ini mengkritik Partai Sosial Demokrat, yang kalah pada pemilu tahun lalu, gagal mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan gagal pula mempersiapkan diri menghadapi resesi.

Selama kampanye, Grybauskaite menekankan perlunya memerangi persoalan keuangan dengan melindungi mereka yang berpendapatan rendah, menyederhanakan aparat birokrasi Lituania, dan meninjau ulang program investasi pemerintah.

Ia berjanji, euro bisa diadopsi di Lituania pada tahun pertama pemerintahannya. Menurut pandangan Grybauskaite, ia terpilih sebagai perempuan presiden pertama karena banyak warga Lituania tidak lagi percaya kepada politisi arus utama.

Dia maju sebagai calon presiden independen meskipun mendapat dukungan dari partai berkuasa, Partai Konservatif. ”Saya seorang independen. Ini memberi harapan bagi rakyat, saya akan memperlakukan semua orang sama,” katanya.

Ban hitam karate

Adu argumen dengan Partai Sosial Demokrat sepanjang tahun lalu kian menegaskan reputasi Grybauskaite sebagai ”Wanita Besi”. Tidak ada politisi yang dianggap senior untuk menjadi sasaran kritiknya.

Tidak hanya di panggung politik, reputasi ”Wanita Besi” juga dia dapatkan karena memegang ban hitam karate.

Idola Grybauskaite tak lain adalah penyandang julukan ”Wanita Besi” yang asli, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Mahatma Gandhi juga menjadi model politik Grybauskaite karena pelayanannya yang tulus bagi orang lain. ”Saya suka berterus terang dan blak-blakan, mungkin kadang keterlaluan. Saya katakan apa yang ada di pikiran dan tak semua orang menyukainya,” ujarnya soal reputasi itu.

”Saya percaya transparansi dan menuntut kualitas itu dari siapa saja. Saya tak akan menghargai pembohong dan mereka yang lambat,” katanya. Meskipun didukung partai berkuasa, Grybauskaite memperingatkan bahwa dia juga mengawasi pemerintah. Dia telah menyatakan tidak terkesan dengan kinerja lima menteri di kabinet dan bermaksud mengganti mereka.

Analis politik mengaitkan kemenangan mudah Grybauskaite dengan kompetensinya di bidang finansial dan kemampuannya menghindari skandal domestik. Sebelum terpilih sebagai presiden, dia menjabat sebagai Komisaris Program Keuangan dan Anggaran Uni Eropa (UE).

Anggaran UE tak luput dari kritiknya. Baginya, anggaran UE bukan anggaran untuk abad XXI karena mayoritas dibelanjakan untuk program pertanian. Dia menyodorkan anggaran untuk pertama kalinya dalam sejarah UE, dengan kondisi belanja pertumbuhan dan tenaga kerja melebihi program pertanian dan sumber daya alam.

Separuh gaji

Bagi Lituania, Grybauskaite punya rencana untuk menyusun kebijakan guna menstabilkan keuangan publik, menstimulasi ekspor, menyerap bantuan UE lebih cepat, serta menyediakan potongan pajak bagi usaha kecil dan menengah.

”Anggaran yang dibuat terlalu optimistis dan harus direvisi secepatnya. Kita harus menghemat,” ujar Grybauskaite.

Dia memulai penghematan itu dengan menyatakan hanya akan mengambil separuh gajinya sebagai presiden yang mencapai 120.000 dollar AS per tahun (sekitar Rp 1,2 miliar).

Lahir di Vilnius, ibu kota Lituania, pada 1 Maret 1956, Grybauskaite menganggap dirinya tidak berada di jajaran siswa terbaik. Dia fasih berbicara dengan bahasa Inggris, Rusia, Polandia, dan Perancis. Pada usia 11 tahun, dia mulai mengambil bagian di dunia olahraga sebagai pemain basket. Dia juga pernah bergabung dengan Lithuanian National Philharmonic sebagai staf inspektur.

Grybauskaite belajar ekonomi di Leningrad, kini St Petersburg, Rusia. Setelah Lituania lepas dari Uni Soviet pada tahun 1990-an, dia kembali ke Lituania dan melanjutkan studi di Universitas Georgetown, AS. Dia lalu bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan pembantu politisi yang bertanggung jawab atas pembangunan hubungan ekonomi Lituania dan bernegosiasi dengan UE.

Pada 1999-2000, dia ditunjuk menjadi wakil menteri keuangan, lalu menjadi wakil menteri luar negeri, dan menjadi menteri keuangan. Kini, Grybauskaite akan membuktikan bahwa reputasi yang disandangnya memang diperlukan bangsa dan negaranya.

SUMBER : FRANSISCA ROMANA, KOMPAS
BACK TO HOME
Read More..

MICHAEL JACKSON DAN “CHILD ABUSE”

Cinta, gelombang kasih yang tulus hingga usia tengah abad/selebihnya hanya kau yang tahu....
Mungkin hanya kebetulan saja penggalan lirik lagu "Tembang Lestari" karya Leo Kristi di atas seolah mengingatkan kita pada nasib tragis mahabintang Michael Jackson yang tewas pada usia yang baru saja lewat setengah abad.


Lagu ini dinyanyikan dengan amat indah oleh Berlian Hutauruk dan pianis Yockie Suryoprayogo di Bentara Budaya Jakarta, Senin (29/6) malam. Sayangnya, lirik ”lanjutkan usiamu, lanjutkan semangatmu...” tidak berlaku lagi Jacko....

Hingga kini penyebab kematian Michael Jackson (MJ) masih simpang siur. Jaringan televisi Fox hari Minggu petang melaporkan bahwa MJ meninggal karena henti jantung (cardiac arrest), diduga akibat ia meminum secara cocktail atau sekaligus tujuh jenis obat-obat keras yang harus diresepkan dokter. Tiga di antaranya adalah narkotik analgetik (penghilang rasa sakit), yaitu Demerol, Dilaudid, dan Vicodin. Empat obat lainnya masuk kategori antidepresan, antitukak lambung, relaksan otot, dan sedatif.

Menurut pakar farmakologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr. Rianto Setiabudhi, tiga jenis narkotik analgetik yang dikonsumsi MJ seharusnya tidak menimbulkan efek melemahnya denyut jantung hingga henti jantung, hanya menimbulkan depresi napas dan efek sedasi (mengantuk). Namun diakuinya, Demerol (yang mengandung meperidin), Dilaudid (hidromorfon), dan Vicodin (hidrokodon parasetamol) dapat menimbulkan adiksi (kecanduan).

”Mungkin Michael Jackson menderita nyeri tubuh yang kita belum tahu di mana sehingga ia meminum tiga jenis narkotik penghilang rasa nyeri itu sekaligus. Ia mungkin juga menderita depresi, dan henti jantung justru kemungkinan besar ditimbulkan oleh antidepresan yang diminumnya,” tutur Prof Rianto. Antidepresan mengakibatkan denyut jantung MJ memanjang dan aritmia ventrikel atau bilik jantung berdenyut tak teratur, hingga tiba pada suatu situasi yang disebut torsade de pointes atau irama denyut jantung melambat dan berakhir dengan henti jantung.

Fatamorgana

Nasib tragis dan kematian MJ seolah mengulang cara kematian maharaja rock ’n roll Elvis Presley karena overdosis obat-obat penenang. Kebetulan MJ menikahi putri tunggal Elvis, Lisa Marie Presley, tahun 1994-1996. Kepada Lisa Marie, MJ pernah menyatakan kekhawatirannya akan meninggal mendadak seperti Elvis. Sungguh semacam self-fulfilling prophecy atau nubuat yang tergenapi dengan sendirinya....

Menyibak sebab musabab kematian MJ, tak bisa tidak, kita harus menelusuri masa kecilnya. Kuat dugaan, luka batinnya akibat child abuse yang dilakukan ayah kandungnya, Joseph Jackson, justru lebih serius ketimbang sakit fisiknya. ”Kita mesti melihat Jacko dari masa kecilnya. Dari film biografi keluarga Jackson, kita dapat menyimak sedikit psikodinamika kehidupannya,” demikian dr Nalini Muhdi, psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang semalam menuliskan e-mail tentang MJ dari Hongkong.

Kendati demikian, Deepak Chopra, guru rohani yang juga dokter dan sahabat MJ, menyatakan bahwa sejak tahun 2005 ia mengkhawatirkan penyalahgunaan narkotik analgetik oleh MJ ketika bintang ini tinggal bersamanya. Waktu itu Chopra mendampingi MJ ketika menjalani persidangan tuntutan sex abuse terhadap anak-anak kecil. Majalah Newsweek (edisi 6-213 Juli 2009) melaporkan sebuah apotek di Los Angeles tahun 2007 menagih utang 100.000 dollar AS untuk obat-obat resepnya selama dua tahun.

Selain obat-obatan, MJ mengalami masalah keuangan yang serius. Tahun 2008 ia gagal membayar utang sebesar 24,5 juta dollar AS, hingga ranch-nya di Neverland nyaris ditutup. Konser-konser come back-nya keliling dunia yang menurut rencana akan dimulai di London, Juli ini, diperkirakan tak akan menutup utangnya.

Betapapun, menurut dr Nalini, MJ memang hebat. Paling tidak, untuk rentang waktu tertentu ia mampu ”mengalahkan” luka batinnya, masa kecilnya yang terkoyak, lewat prestasinya dalam dunia musik pop dunia. MJ yang kaya, yang tersohor, dengan sederet prestasi gemilangnya, ternyata berakhir hidupnya dalam gelimang sunyi yang sulit dimengerti awam. Gaya hidupnya yang aneh dan menutup diri, mencari dan mencari sesuatu untuk mengisi emosi yang kosong. Ia seperti selalu mengejar fatamorgana

Semasa kecil, konon MJ harus berlatih keras dan disiplin kaku yang melebihi kapasitas yang dapat disangga seorang anak kecil. Ayahnya mahakeras mendidik anak-anaknya, hampir mereka kehilangan masa kecil yang indah dan ceria, terlambat latihan akan diganjar gebukan ayahnya. ”Cinta kepada ayahnya sedikit demi sedikit tergerus dan digantikan kebencian. Kendati akhirnya mereka berhasil dalam prestasi menyanyi, luka jiwanya yang tak terperi masih terus meninggalkan parut tajam di ingatannya,” ujar dr Nalini.

Dikatakan, child abuse (perlakuan salah terhadap anak) memang bukan perkara sederhana seperti banyak orang memandang dan berpikir selama ini. Child abuse adalah sebuah tragedi kehidupan. Luka fisik bisa terobati, tetapi luka batin meninggalkan jejak panjang seumur hidup yang mau tidak mau membutuhkan bimbingan yang akurat. Child abuse sebagai bagian kekerasan dalam rumah tangga mengakibatkan banyak parut gangguan mental emosional. Pribadi korban menjadi rapuh, citra diri yang buruk, merasa tidak berdaya, marah, sedih, bingung, penuh kecemasan, depresi, dan yang lebih berat lagi.

”Kendati Jacko lantas sukses, tapi pijakannya rapuh dan gampang goyah. Self-esteem yang buruk diatasinya dengan pencapaian-pencapaian di dunianya. Dunia hiburan yang penuh gemerlap dan banyak kegembiraan semu menawarkan pelipur lara kehidupannya, tetapi hanya sementara. Self-esteem yang buruk tersebut lantas membuahkan gangguan body image (body dysmorphic disorder) pada Jacko. Terbukti bagaimana ia mencoba berganti-ganti mengubah penampilan lewat bedah plastik. Jacko yang sebetulnya tidak jelek itu selalu merasa tidak puas dengan tubuhnya dan umumnya disertai dengan gangguan depresi. Jacko merasa tidak berdaya di tengah keberdayaannya di dunia hiburan. Dengan demikian, ketika tiba saatnya bintang itu meredup seiring dengan berjalannya waktu, Jacko limbung,” papar dr Nalini

Mungkin MJ menggantungkan pride-nya pada gegap gempita tepuk tangan penggemar. Ketika tepuk tangan itu tak terdengar lagi, ia jadi linglung dan kosong. Sesuatu yang kerap terjadi pada beberapa bintang pop, mengidap ”sindrom primadona”. Nyeri sekali menyadari kenyataan bahwa tak ada lagi riuh rendah dan puja-puji penggemar. Apalagi dilandasi kepribadian yang memang rapuh. ”Maka, tak heran kesunyian adalah bencana yang tak tertahankan, depresi menindas hidupnya,” lanjut dr Nalini.

Sumber : KOMPAS

BACK TO HOME


Read More..

The Happiness News