Oh, Kota Kecil Betlehem

Tampaknya aneh, tetapi menyanyikan lagu Natal yang sama, tahun demi tahun adalah menyenangkan. "O Little Town of Bethlehem" adalah salah satunya. Ia tidak pernah berhenti untuk dibicarakan seperti orang melukis banyak gambar visual dalam kata-kata. Saya menerima keindahan ini, ketukkan sedehana dan musiknya dengan sukacita di hati saya .
Namun, pada suatu hari ketika saya menyanyikan lagu itu dan air mata pun mengalir, demikian kata Lucy Neeley Adams. Saya mengoles pipi saya dengan sebuah tissue, karena saya bernyanyi dengan semangat yang baru dan sukacita yang lebih besar. Sesuatu telah berubah. Ini adalah pertama kalinya saya menyanyikan pujian yang menimbulkan perasaan cinta ini, di tempat yang sangat khusus - Kota Bethlehem kecil yang sesungguhnya.

Saya dan suami saya dengan teman-teman telah bepergian bersama dari gereja kami di Tennessee. Ini adalah bukti bahwa setiap orang telah disentuh secara dalam oleh Roh Allah. Kami duduk di dalam Gereja Kristus yang dibangun diatas suatu tempat di mana itu dipercaya sebagai tempat Yesus dilahirkan. Mendengar tentang Bethlehem tidak sama dengan menjadi bagian darinya. Membaca tentang kelahiran Yesus tidak sama dengan beribadah di Bethlehem.

Hal ini mungkin merupakan suatu reaksi yang sama, yang dialami oleh Phillips Brooks, penggubah dari lagu Natal yang terkenal itu. Dia adalah pendeta dari Holy Trinity Church Kudus di Philadelphia telah mengunjungi Bethlehem pada Desember 1865.

Beberapa tahun kemudian, ketika ia ingin mengarang lagu Natal yang baru untuk anak-anak bernyanyi di gereja, dia ingat kembali di masa lampau, inspirasi dari Tanah Suci yang dikunjunginya. Syair yang ia tulis, dilukiskan dalam kata-kata dari pemandangan dan keramaian kota kecil Bethlehem yang dia dikunjungi.

Apa yang datang dari penanya, adalah sebuah pujian Natal yang hidup dan telah menjadi terkenal di seluruh dunia :

"O little town of Bethlehem,
How still we see thee lie.
Above thy deep and dreamless sleep
The silent stars go by..."

Kemudian ia meminta organist gereja, Lewis Redner, untuk mengarang melodi sederhana untuk anak-anak bernyanyi pada malam hari Natal. Mr.Redner duduk dekat piano untuk menemukan nada yang tepat , selaras dengan gambaran kata-katanya.

Tetapi nampaknya tidak cocok. Sebelum malam hari Natal ia merasa dikalahkan, sehingga ia pergi ke tempat tidur. Selama tidur yang menjengjelkan itu, ia mendengarkan musik. Segera, dia bangun dan catat melodi yang sama seperti yang dinyanyikan hari itu. Ketika ia dengan penuh kegembiraan menyajikan kepada Pendeta Brooks katanya: "Saya pikir itu adalah hadiah dari surga." Anak-anak mendengar seperti sebuah paduan suara malaikat seperti mereka bernyanyi sebuah nyanyian yang baru saja ditulis untuk mereka. Kami diberkati untuk terus bernyanyi lagu tersebut lebih dari seratus tahun kemudian.

Pendeta dari Holy Trinity , Phillips Brooks, dilahirkan di Boston, pada 1825 dan dididik di Harvard. Dia adalah seorang yang mencintai dan menghormati Pengabar Injil. Setelah melayani beberapa gereja Episkopal di Philadelphia dan Boston, ia diangkat sebagai Uskup dari wilayah tersebut.

Seorang laki-laki raksasa, yang tingginya 6 feet-8 inci, juga memiliki jiwa besar, mempunyai rasa sayang yang sama kepada orang tua maupun muda. Ada mainan di kantornya untuk anak-anak yang mengunjunginya. Ini adalah suatu pemandangan yang lazim, Uskup duduk di lantai bermain permainan dengan sekelompok anak-anak.

Dia tidak pernah menikah tetapi anak-anak orang, menjadi seperti keluarganya Ketika dia meninggal dunia mendadak pada tahun 1893, pada usia 58, semua orang dibanjiri dengan kesedihan. Ia adalah seorang anak yang mengubah kematiannya dalam cahaya yang indah. Ketika memberitahu ibunya bahwa Uskup Brooks telah pergi ke surga, dia hanya berkata, "Oh Mama, betapa bahagianya hati para malaikat."

Dalam keindahan, "O Little Town of Bethlehem" adalah salah satu janji Allah seperti nubuat nabi Mikha: "Tetapi engkau hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mikha 5:1).

Ayat terakhir adalah sebuah doa. Bahkan, sebuah doa Natal yang betul-betul mempesona yang dinyanyikan dengan semangat penginjilan:

"O Holy Child of Bethlehem,
Decend to us, we pray.
Cast out our sin, and enter in,
Be born in us today.
We hear the Christmas angels,
The great glad tidings tell.
Oh come to us, abide with us,
Our Lord Emmanuel!"

Saya berterima kasih, ya Allah, untuk mengirimkan Putra-Mu yang dikasihi, Yesus, lahir di Bethlehem. Saya juga berterima kasih bahwa hati saya telah menjadi tempat kelahiran-Nya. Di dalam nama Yesus, Amin.

Source : CrossWalk: Translated by Samuel Uniwaly
BACK TO HOME
Read More..

KEKUATAN BERSYUKUR

“Ketika Anda merasa berterima kasih, Anda menjadi sangat baik, dan akhirnya menarik hal-hal yang sangat baik”. –PLATO-

Negarawan Romawi yang hebat Marcus Tullius Cicero berkata, “Tindakan bersyukur adalah sumber kebajikan”.
Tindakan bersyukur bukan hanya sumber kebajikan, tetapi juga sumber semua kebaikan hidup. Bersyukur membawa kasih, kesehatan, kebahagiaan dan kemakmuran. Di mana pun Anda menemukan orang-orang yang benar-benar berhasil, Anda menemukan tindakan bersyukur dalam jumlah besar.

Tindakan bersyukur menciptakan medan tarik-menarik yang lebih kuat daripada yang lainnya, kekuatan daya tariknya begitu kuat sehingga tidak dapat menahan datangnya visi Anda kepada Anda.
Sebaliknya kurangnya perasaan syukur dapat secara luar biasa melumpuhkan Anda. Jika kita tidak berhati-hati, kita dapat melupakan semua kebaikan yang datang dalam hidup kita.

Memusatkan perhatian pada apa yang tidak Anda miliki, bukannya pada apa yang benar-benar Anda miliki, melemparkan keseluruhan sistem Anda ke dalam getaran negatif dan keadaan ketidakseimbangan. Menurut Hukum Tarik-Menarik, orang-orang yang tidak berterimakasih cenderung menarik dan memanifestasikan hal yang justru mereka takutkan dan paling mereka benci yakni kekurangan, dalam segala bentuknya. Mereka berpikir tentang kekurangan, jadi mereka memanifestasikan kekurangan.

Untuk mengalami perasaan syukur secara terus menerus, Anda harus memahami dan mempercayai tiga kebenaran :

1. Situasi Anda sekarang sangatlah baik dan menjadi semakin baik.
2. Kehidupan Anda sekarang penuh dengan hal-hal yang patut disyukuri.
3. Hasil Anda sekarang akan terus menerus berubah, bertumbuh dan menjadi semakin baik

Mari kita perhatikan satu persatu.

SITUASI ANDA SEKARANG ADALAH SANGAT BAIK DAN MENJADI SEMAKIN BAIK

Menurut Hukum Relativitas, realitas kita hanya tercipta karena perbandingan. Kita dapat merasa bersyukur atau tidak bersyukur untuk apa pun situasi kita sekarang. Beberapa orang mungkin merasa benar-benar diberkati dan bersyukur untuk gaji sebesar 70.000 dolar. Orang lain mungkin merasa sangat tidak puas dengan jumlah itu.
Untungnya, kita semua memiliki banyak hal untuk disyukuri. Sebagian besar di antara kita memiliki hubungan dengan orang lain, cukup makan, ada tempat untuk beristirahat dan pakaian. Agar dapat masuk ke dalam kerangka pikiran yang tidak bersyukur, kita harus melupakan semua hal itu dan berfokus pada jumlah hal yang sangat terbatas yang dengannya kita tidak puas.

Misalnya, Anda mungkin tidak puas dengan penghasilan Anda sekarang. Satu-satunya cara Anda dapat merasa tidak puas adalah membandingkannya dengan sesuatu lainnya, menilainya dengan kriteria tertentu. Tidak ada yang salah dengan keinginan meningkatkan penghasilan, tetapi sebenarnya tidak berguna memikirkan jumlah uang itu sebagai terlalu besar atau terlalu kecil. Mungkin jumlah itu tidak sesuai dengan yang Anda inginkan, tetapi jumlah itu kemungkinan sangat besar jika dibandingkan dengan penghasilan tahunan rata-rata sebesar 180 dolar di Bangladesh. Ketika Anda memerhatikannya menurut pandangan itu, perasaan Anda tentang hal itu akan berubah.
Situasi Anda sekarang adalah apa pun yang dihasilkan oleh pemikiran masa lalu dan tindakan-tindakan masa lalu Anda. Situasi ini hanya apa adanya sekarang. Itu tidak ada hubungannya dengan berapa penghasilan Anda nanti di masa yang akan datang dan tidak ada makna yang sesungguhnya kecuali makna yang Anda berikan kepadanya. Karena Anda dapat memilih untuk bersyukur atau tidak bersyukur, mengapa tidak memilih kerangka pikiran yang akan mulai menarik lebih banyak kebaikan kepada diri Anda? Sikap bersyukur adalah salah satu magnet yang paling kuat di alam semesta. Gunakan sikap itu untuk menarik lebih banyak dari apa pun yang Anda inginkan.
Pada waktu Anda mulai menjadi bersyukur secara aktif untuk semua kebaikan dalam hidup Anda, ketahuilah bahwa semakin banyak kebaikan sedang datang kepada Anda. Ketika Anda mengirimkan getaran positif dan penuh syukur ini, Anda tidak mungkin gagal.

KEHIDUPAN SEKARANG PENUH DENGAN HAL-HAL YANG PATUT DISYUKURI

Untuk mengalami perasan bersyukur yang terus menerus, penting mengingat bahwa kehidupan ini penuh dengan hal-hal yang patut disyukuri. Biasakan setiap hari untuk mengingat dan bahkan mungkin mendaftar, semua hal yang membuat kita merasa bersyukur. Ketahuilah bahwa apa pun yang tidak kita sukai hanyalah sementara, dan semata-mata hasil dari pemikiran dan tindakan kita dimasa lalu dan bahwa kita sedang dalam proses untuk mengubahnya.
Alasan banyak orang kurang merasa bersukur karena merekan meniadakan semua hal baik yang mereka miliki sekarang dan berfokus hanya pada hal-hal yang ingin mereka perbaiki. Sebaliknya fokuskanlah pada kekayaan yang sekarang Anda miliki dalam hidup Anda.

Contohnya, pikirkan tentang penglihatan Anda; berapa banyak yang akan Anda bayar untuk mengembalikan penglihatan Anda jika Anda kehilangan penglihatan? Berapa nilai kemampuan untuk berjalan atau berlari, jika kemampuan itu hilang? Berapa harga yang Anda bayar untuk keluarga dan teman-teman yang penuh cinta dan setia? Berapa harga kesehatan Anda? Berapa yang Anda bayar untuk mengembalikan kesehatan Anda jika Anda didiagnosa memiliki penyakit yang dapat menyebabkan kematian? Jika Anda dapat melihat, berjalan, mengasihi dan turun dari tempat tidur setiap pagi, Anda kaya tiada bandingan.

Untuk mengalami persaan bersyukur dalam keuangan, kita hanya perlu mengingat bahwa kebanyakan dari kita hidup dalam kekayaan yang mewah dibandingkan dengan kebanyakan orang di dunia ini. Untuk mengalami perasan bersyukur atas proses kehidupan, kita hanya perlu mengingat pikiran kita yang mengagumkan, dan dapat memahami HUKUM SUPER dan mulai menciptakan apa saja yang kita inginkan. Kita dapat memperoleh semua buku dan pengetahuan yang kita inginkan. Kita dapat memperoleh semua pendidikan yang kita inginkan, sehingga kita terus menerus berkembang dan bertumbuh. Kita hidup di negara yang menghargai kebebasan berusaha dan di mana kita dapat memilih atau mengubah karier kita menurut kehendak kita. Kita dapat mengejar semangat kita tanpa gangguan, dan menciptakan apa pun yang diimpikan oleh pikiran dan jiwa kita. Ini adalah kekayaan yang sangat besar.

Salah satu hal yang saya lakukan setiap pagi adalah mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, “Apa yang kusyukuri hari ini?” Ini adalah pertanyaan yang jauh lebih menguatkan ketimbang, “Mengapa aku mesti bangun sepagi ini? Atau “Mengapa aku tidak pergi tidur pada waktunya tadi malam?” Saya sarankan Anda untuk mengajukan pertanyaan setiap pagi selama tiga puluh hari, “Apa yang kusyukuri hari ini?” Ini akan membantu Anda mengingat semua hal yang Anda hargai dalam hidup Anda. Cobalah sekarang juga. Apa yang Anda syukuri hari ini? Jawab pertanyaan ini karena ini berhubungan dengan kesehatan, kemampuan, bisnis, keluarga, dan teman-teman Anda.

HASIL ANDA SEKARANG AKAN TERUS MENERUS BERUBAH, BERTUMBUH, DAN MENJADI SEMAKIN BAIK

Keyakinan penting ketiga dalam Kekuatan Bersyukur adalah keadaan Anda sekarang merupakan hasil pemikiran dan tindakan Anda di masa lalu. Karena pemikiran Anda menjadi semakin baik, hasil Anda juga akan menjadi semakin baik. Hasil yang Anda miliki hari ini tidak mewakili masa depan Anda.

Ketika Anda tenggelam ke dalam pemikiran negatif dan menjadi tidak bersyukur atas keadaan Anda sekarang, Anda mengirimkan pikiran bawah sadar pesan, “Saya tidak percaya impian dan visi saya sedang terwujud. Yang saya miliki sekarang bersifat permanent dan tidak akan berubah atau menjadi lebih baik”. Pemikiran ini menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya. Anda akhirnya mewujudkan ketakutan terburuk Anda : kekurangan dan keterbatasan. Sebaliknya, tanamlah benih perasaan bersyukur dan keyakinan dalam kebun pikiran Anda yang sangat indah dan perhatikan benih tersebut mulai berakar

Jika Anda benar-benar memiliki keyakinan terhadap kemampuan Anda untuk berhasil, Anda akan bersyukur terlebih dahulu. Dan bersyukur terlebih dahulu memelihara keyakinan Anda. Pikiran bawah sadar Anda mulai menciptakan persis seperti yang Anda minta dan harapkan.

Kita selalu mewujudkan hasrat terbesar kita melalui perasaan bersyukur atau ketakutan terburuk kita melalui kurangnya perasaan bersyukur. Hukum ini bekerja setiap waktu, apakah itu mendukung kita atau menentang kita. Gagasan yang mengendalikan Anda akan selalu bermanifestasi ke dalam realitas fisik.

Related LINK : KEKUATAN POLA PIKIR
BACK TO HOME
Read More..

Janji Kosong Meditasi

Haruskah orang Kristen bermeditasi ? Suatu peningkatan jumlah orang Kristen yang mencoba atau menggunakan teknik meditasi Timur dalam suatu upaya langsung kepada kehidupan rohani mereka.
Sudah tidak lagi jijik untuk melihat gereja yang menawarkan kelas yoga dan meditasi, atau mendengar orang Kristen berbicara tentang perjalanan mereka dalam sesuatu yang membingungkan, waktu yang digunakan dalam meditasi, atau mencoba dengan hal-hal terbaru dari Timur.

Kini, Gannett News Service menawarkan sebuah laporan atas masalah itu :
"Semua nyanyian dan kemenyan - bahkan altar-altar meditasi tampaknya terlalu baru dan mistik untuk kebanyakan orang, namun meditasi telah kehilangan mainstream dan dirangkul oleh ibu-ibu pinggiran kota dan orang-orang sibuk."

Generasi muda mendapat pengenalan di kelas-kelas Yoga; mereka yang bercita-cita tinggi melarikan diri pada tempat-tempat meditasi dan mencari ketenangan di taman-taman meditasi. Meditasi, tampaknya, tidak lagi terkait sebagai suatu kultur pajangan, aktivitas dibuat modern oleh The Beatles dan disukai oleh anak-anak.

Beberapa pendekatan melalui meditasi Buddhisme atau agama-agama Timur lain; lebih-lebih Kristen, bermeditasi melalui upacara kuno yang terpusat pada doa, sedangkan yang lain mengembangkan gaya mereka sendiri, apakah itu contoh teknik pernapasan dari guru populer Deepak Chopra atau tidak.

Sebagian besar duduk, biasanya berfokus pada sebuah mantra atau pada pernapasan mereka, tetapi Anda dapat bahkan membersihkan pikiran Anda saat berjalan kaki berkeliling, merawat sebuah taman atau melalui basis gerakan seperti Tai Chi.

Konsep Alkitab pada Firman Tuhan, meditasi mengakibatkan sebuah kekosongan, tentu saja.Kita harus mengosongkan pikiran-pikiran kita yang amat mengganggu dan pikiran-pikiran yang tidak Alkitabiah, dari keinginan untuk berbuat dosa dan perlawanan terhadap kekuasaan Allah dalam kehidupan kita. Tetapi kekosongan itu tidak menyebabkan sebuah hati menjadi kosong. Sebaliknya, ia menyebabkan sebuah hati yang berada dalam pemikiran yang tidak Alkitabiah diganti oleh kebenaran Alkitab - bukan sebuah daftar kekosongan dari meditasi yang mengelilingi diri.

Dalam Mazmur 119, Daud menulis, "Betapa kucintai TauratMu. Aku merenungkannya sepanjang hari. PerintahMu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.[Mazmur 119:97-98] .Meditasi Daud tidak berputar di sekitar Daud, juga tidak menyebabkan Daud mencoba untuk mengosongkan pikirannya dalam kesunyian. Dia mati-matian ingin mendengar dari Tuhan, dan ia tahu ia akan mendengar langsung dari Allah dalam firmanNya. Dia belajar Kitab Suci untuk membersihkan pikirannya dari pikiran yang keliru dan diganti dengan ajaran dan pola pikir yang benar.

Artikel yang baik termasuk penilaian dari Profesor Don Whitney dari Southern Seminary:

"Ide dari pengosongan pikiran tidak berdasarkan Alkitab," ujar Don Whitney, Asosiasi Profesor dari spiritualitas Alkitab pada Southern Theologi Baptis Seminary di Louisvile.

Mengacu kepada kumpulan meditasi Hindu, Buddha dan agama-agama Timur lain, Whitney berkata, "Beberapa item Yoga, di mana Anda diberi suatu mantra, yang berakar pada agama-agama" Dia melihat tidak ada masalah dengan jalan itu, tetapi sekali Anda memulai berusaha, Anda melangkah pada dasar yang berbahaya, katanya.

Tidak ada hal yang salah dengan keinginan untuk bebas dari masalah stres yang berakar pada keduniawian dan kesusahan dunia ini. Namun dapat bebas dari kekuatiran ini bukan soal terapi-sendiri, tetapi mempunyai pikiran yang diatur oleh Firman Allah - diatur oleh Pencipta.

Kita hidup di dunia sehingga dibentuk oleh urusan terapi bahwa kebanyakan orang tidak pernah berhenti untuk heran jika Allah berurusan dengan mereka dalam ketegangan mereka, penderitaan mereka, kekusutan pikiran mereka. Sebuah usaha untuk mengosongkan pikiran barangkali baik ketika kita harus mencari untuk mendengar Allah.

Selain ini, kita harus mempertanyakan seluruh ide bahwa pikiran dapat pernah menjadi kosong. Sebaliknya, isu ini jauh lebih mungkin bahwa ketika kita mencoba untuk "mengosongkan" pikiran dengan cara ini,kita hanya menutup diri untuk apapun dan menjadi perhatian kepada diri sendiri.

Untuk orang Kristen, jenis meditasi ini adalah bahaya, bukan untuk pertumbuhan rohani. Bolehkah kita bermeditasi? Tanpa pertanyaan, kita harus bermeditasi di atas Firman Allah. Ini harus menjadi bagian dari kedisiplinan rohani yang tetap dan teratur. Namun, jenis meditasi ini tidak menimbulkan pikiran yang kosong, dan tidak pula dengan perasaan yang kosong, tapi kepada pikiran yang terus diarahkan oleh Kitab Suci.

Bentuk meditasi yang lain adalah suatu bahaya dan merupakan sebuah janji kosong

Albert Mohler/Translated by Sam Uniwaly
Back to Home

Read More..

William Henry Harrison

Sebuah kisah nyata tentang tokoh besar bernama William Henry Harrison. Siapakah dia? Ya, dialah presiden Amerika kesembilan. Ketika William masih kecil, ia melakukan sebuah pertunjukkan yang aneh. Ia kerap kali pergi ke taman yang ramai dikunjungi orang-orang untuk nongkrong di situ sambil melakukan sesuatu.
Orang-orang yang melewati taman ini dan melihat apa yang dilakukan William pasti berpikir bahwa ia adalah anak yang dungu. Setiap kali orang melemparkan pecahan uang 1 dolar, 5 dolar dan 10 dolar, William selalu mengambil pecahan terkecil, yakni 1 dolar. Jelas, ini adalah pertunjukkan anak yang dungu. aneh, sekaligus lucu bagi orang yang melihatnya. Orang-orang pun mulai berlomba menaruh uang 1 dolar, 5 dolar, 10 dolar dan seperti biasanya. William hanya mengambil pecahan 1 dolar. Orang-orang pun merasa bahwa William sangat bodoh. Dan, dengan begitu, semakin banyak yang tertarik untuk menguji kebodohan William. Sampai suatu saat, seorang guru William melewati taman itu dan melihat apa yang dilakukannya. Karena merasa bahwa William sangat aneh, sang guru pun mulai menerangkan kepada William bahwa uang 10 dolar lebih besar dari pada uang 5 dolar, sedangkan 10 dolar dan 5 dolar lebih besar dari pada uang 1 dolar. Sang guru pun berpesan, “Jadi, kalau mau mengambil uang, ambillah uang yang nilainya paling besar”.
William kecil yang dari tadi mendengarkan dengan seksama pun menjawab, “Saya mengerti Bu Guru. Tetapi, kalau saya mengambil uang 10 dolar, tak ada lagi perilaku lucu saya. Justru karena saya mengambil uang 1 dolar, mereka terus memberikan uang. Lihat! Mereka senang, saya pun senang. “jawab William dengan tersenyum.
Sungguh luar biasa apa yang dilakukan William. Ia mungkin saja tampak bodoh, tetapi sebenarnya ia adalah anak yang lebih cerdas daripada gurunya. Darinya, kita belajar arti menjadi pandai dan cerdik. Banyak orang pandai, tetapi mereka tidak cerdik. Apa artinya kita menunjukkan kepandaian, tetapi tanpa kita sadari, kita telah membuat hubungan menjadi rusak, pelanggan jadi tidak senang, dan atasan mulai memusuhi kita. Kepandaian yang cemerlang harus disertai kecerdikan, kapan kita menggunakannya. William Henry Harrison telah mengajarkan kepada kita bahwa kadang kita harus mengalah dan tampak bodoh, sehingga tidak membuat orang lain merasa terancam atau pun digurui.
Ingatlah selalu bahwa bagus jika kita tampak pandai di mata orang lain, tetapi akan jauh lebih bagus jika secara cerdik; kita tahu kapan dan di mana kita menunjukkan kepandaian kita, kapan kita cukup dengan menyembunyikannya. Sayangnya, ego kita membuat kita tidak ingin tampak bodoh. Tetapi, justru ego inilah yang kadang-kadang merusak dan merugikan hubungan kita. Pada mulanya, William ditertawakan. Namun, pada akhirnya, William Henry Harrison sendirilah yang tertawa paling keras.

Related : Willian Henry Harrison
Back To Home
Read More..

Anjing-anjing raksasa




Read More..

Should Christians Celebrate Christmas?

Tell the average guy on the street -- one who actually realizes there is a connection between Christ and Christmas -- that some Christians don't celebrate the holiday and you'll likely get a pointed question or two. "Isn't that the biggest church-going day of the year? Not to mention that Christmas is as American as apple pie! Why wouldn't a Christian celebrate the birth of Christ?"

In actuality, the reasons are varied and the legacy long, going back to the Puritans and up to present day groups such as Advent Conspiracy.

Pam Ferris stopped celebrating Christmas when she became a born-again Christian. "I didn't see in the Bible a command to remember the birthday of Jesus," she told Crosswalk.com by phone. "He never told us when to celebrate it, plus, I don't think the apostles celebrated Christ's birthday." But, the main reason is "the ghost of Christmas past."

The Philadelphia resident grew up in a Catholic family that piled up mounds of debt each December. Her brothers and sisters tried to outspend each other in an attempt to gain their mother's approval, and one sibling even took to shoplifting - just to get the perfect gift. At the annual midnight mass outing, her uncles and dad staggered down the aisle after one too many whiskeys at Christmas Eve dinner. "I was disillusioned about the farce that Christmas became in my family," says Ferris. "So, when I turned my life over to Jesus at age 22, I turned my back on Christmas."

Ferris says she might be interested in finding a church that is part of Advent Conspiracy, an international movement "restoring the scandal of Christmas by worshipping Jesus through compassion, not consumption." The organization's mission, according to its website, is to encourage people to worship more, spend less, give more and love all. "Christmas was meant to change the world. It still can," is one of the group's mottos.

Until she takes the leap of joining Advent Conspiracy, Ferris's house is dark. There is no tree in the window and she doesn't give gifts to anyone on Dec. 25. Although her neighbors and even her own family think she is "an oddball for abstaining from Christmas revelry, I feel that if the Puritans could do it, I can too."

Christmas in mid-17th century puritanical America was outlawed by Protestant reformists as "another one of those idol-worshipping religious festivals well worth expunging," says Colgate University professor Anthony Aveni. According to Aveni, who wrote The Book of the Year: A History of Our Holidays, reformist Protestants levied fines on those individuals who dared to miss work on Christmas in 17th Century America.

Charles Haddon Spurgeon, the famous English preacher of the last century, wrote, "We have no superstitious regard for times and seasons. Certainly we do not believe in the present ecclesiastical arrangement called Christmas ... we find no scriptural word whatever for observing any day as the birthday of the Saviour; and consequently, its observance is a superstition, because (it's) not of divine authority ... probably the fact is that the 'holy days' (were) arranged to fit in with the heathen festivals." (Quoted from Metropolitan Pulpit Series, Pilgrim Publications: Pasadena, Texas, 1871, p. 1026).
Charles Halff, director of the Christian Jew Foundation, chooses to boycott Christmas because of the pagan connection. "Thousands of years before Jesus was born, the heathen in every country observed Dec. 25 as the birthday of a god who was called the sun god Tummuz." According to all the heathen religions of that time, writes Halff, "Tammuz had a miraculous birth; and for centuries his birthday was celebrated with feasts, revelry and drunken orgies. The heathen celebrated Tammuz's birthday according to the very example he set for them. He was the world's greatest lover of women, strong drink, dirty jokes, and other sensual fun."

But, for every person who chooses to abstain from celebrating Christmas, thousands more revere the holiday. According to the Associated Press, Gallup polls from 1994 to 2005 consistently show that more than 90 percent of adults say they celebrate Christmas, including 84 percent of non-Christians.

Some, like Claire Shipley of Orlando, downplay the commercial aspects of the holiday and focus on the joyous arrival of Christ "into a dark and sinful world." She says she knows Christmas has a "sordid history" but feels Jesus would approve of taking what once was a pagan feast day and redeeming it. "Isn't that kind of why He came? To save what once was lost?"

Kurt Fredrickson, director of Fuller Theological Seminary's Doctor of Ministry Program, said in a recent phone interview that he appreciates the people who are trying to downscale some of the commercial aspects of Christmas. "But," he adds, "to walk away from Christmas, at least what Christmas is really all about, is going overboard. Christ is central to Christianity. The incarnation is absolutely central to the life and ministry and work of Jesus. So, of course we have to celebrate it. We just need to careful about all the crazy stuff we get caught up in."

Prior to coming to Fuller in September 2003, Fredrickson was on the pastoral staff of Evangelical Covenant Church in Simi Valley, Calif., for 24 years, 18 of which he served as senior pastor. "December was the dreaded month," he says, laughing. "We're supposed to celebrate the birth of Jesus, but you have programs and things to get ready for. It's exhausting. To walk away from some of that is not all that bad. Yet we still have to hold onto the central meaning of what Christmas is all about."

Fredrickson has heard all the objections and says, "Essentially, they are true. We adopted a Roman holiday, which was Dec. 25, and made that the celebration day for the birth of Jesus." He says we know from the New Testament that Jesus probably wasn't born in December. The phrase "the shepherds were out in the fields watching over their flocks by night" is not a wintertime experience, according to Fredrickson.

"We don't know the date," he says. "We don't have any birth records but I think we are fairly certain that is was most likely springtime. The fact that we don't know the exact date of Jesus' birth, and kind of tied into this other holiday, for me doesn't lessen the celebration of Christmas because what we are really doing at Christmas time is celebrating the fact that God stepped into our world in the person of Jesus."

There is an underlying value to Christmas, Fredrickson adds, "which is this amazing sense of gift giving. God is a giving God and I think we get in trouble when we only emphasis that at Christmas time. You know, 'It's a season of giving so let's be nice to people.' That should be a value that people have throughout the year. If Christmas reminds us we are supposed to be like that all year long, great. But sometimes, people are nice only in December and can't wait for January to hit so they can get back to their own selves."

Greg Peters, an assistant professor at Biola University, says he too knows all the objections, but chooses to celebrate. An expert in early church history, Peters told Crosswalk.com that there are at least two theories about the way that Dec. 25 was decided on as the observation date of Christ's birth. "One is that Dec. 25 was this pagan feast. There is also a theory that Dec. 25 was picked based on some early Christian sources that say that Jesus' death would have been on March 25, based on the year and when the Passover happened."

Peters explains that according to ancient rabbinic practice, one's death date was one's birth date. In case of Jesus, it was March 25. Also in rabbinic tradition, birth is the same as conception. Therefore, if Jesus was "conceived" on March 25th, you add nine months and get Dec. 25.

"Some scholars believe this and say you don't have to see Christmas just as a Pagan feast day," says Peters. "It's also possible to read early Christian authors and see that early Christians appropriated pagan holidays for themselves. The fact that Dec. 25 was a pagan holiday and they could usurp a pagan holiday- I'm sure it wasn't far from their minds either."
As for rejecting Christmas because of materialism, "Well," says Peters, "that is like rejecting Christmas because we are all sinners. It seems to me it's more a critique of churches than a critique of our culture, because Biblical teaching and example should be strong enough to counter the trend toward materialism."

The issue isn't whether to boycott or observe Christmas, Peters adds, "but to observe it properly, maybe recovering Advent or some sense of anticipation of the arrival of our Savior. Liturgically, Christmas is a season, not a day. It's important to keep in mind although Christmas Day or Dec. 25 may seem very materialistic, that the season itself doesn't have to be."

Janet Chismar/Crosswalk

Back To Home
Read More..

Non-Christians: Friends or Foes?

Ginger Plowman
I recently heard a young man preach a sermon on the importance of sharing the gospel. His philosophy was that as long as Christians are obeying God by witnessing to the lost, they should not care whether or not the lost accept Christ.

He proposed that this attitude takes the pressure off the one sharing the gospel. After all, if we only care about obeying God and not the results of sharing our faith, what do we have to lose?
While I agree that the decision of another person to accept or reject the call of Jesus is certainly not the responsibility of the one who shared the gospel, I disagree that the Christian’s attitude be one of not caring. His charge for Christians to not concern themselves with non-Christians who reject Jesus bothered me for two reasons; God commands Christians to care, and God has convicted me many times for not caring.

Christians are charged in Colossians 3:12 to be compassionate. “Therefore, as God’s chosen people, holy and dearly loved, clothe yourselves with compassion, kindness, humility, gentleness, and patience” (emphasis mine). We are to care, just as Christ cares, for the lost souls of men.

I used to view non-Christians as outsiders. I looked at them as mere projects that I needed to check off my I shared Christ with them to-do list. I embraced sharing the gospel of Jesus as my job, and I faithfully did it out of obedience.

This “just do it” attitude is definitely in line with my personality. Spiritual gifts tests have confirmed that I am a prophet/teacher. The downfall to a person with these gifts is that she/he is usually lacking in the compassion and mercy department. For example, when a turtle makes the dangerous decision to cross a busy road, many people think, “poor thing.” I think, “stupid turtle.” When someone comes to me with a problem, I’m not the huggy, let-me-cry-with-you type. I’m more the factual “here’s what you need to do so dry your eyes and get on with it” type.

Unfortunately, I must admit, that while I had a heart for obeying God in sharing the gospel with the lost, I did not have a heart for the lost. I can recall telling several people about Jesus and not grieving over their negative response to His plan of salvation. God convicted me that I was viewing Non-Christians as a type of enemy, an enemy that I needed to conquer in the spiritual war of evangelism.

I would faithfully put on my armor, swing the sword of truth at whoever came my way, and walk off the battlefield without giving a second thought to where the wounded fell. I simply counted my efforts as medals toward spiritual heroism.

Jesus doesn’t view non-Christians as the enemy, but as victims of the enemy. According to Philippians 2:5, Christians are to have the same attitude as Christ. It took me a while to realize that not having a heart for the lost is just as disobedient as not sharing the gospel. Christ longs to gather His lost sheep. He searches for them and delights in looking after them, “For this is what the Sovereign Lord says: ‘I myself will search for my sheep and look after them’” (Ezekiel 34:11). He cares for them (1 Peter 5:7). It is impossible to have the attitude of Christ, while not caring for the lost.

Befriending a non-believer for the purpose of sharing the gospel is very different than becoming their companion. Companions are companionable, meaning they are suited for one another socially in their likes and dislikes. Therefore, we are not to be “companions” with a non-believer, but we are to befriend them in order to share the good news of Jesus with them.

Jesus befriended non-believers. He befriended and protected a prostitute when no one else would. He went into the house of Matthew, a lying and cheating tax collector, and ate dinner with a gang of sinners in order to subject them to His holiness. “When the Pharisees saw this, they asked his disciples, ‘Why does your teacher eat with tax collectors and ‘sinners’?’ On hearing this, Jesus said, ‘It is not the healthy that need a doctor, but the sick’” (Matthew 8:11-12). Jesus came to set the sinners free.

As we befriend non-believers for the sake of sharing the love of Christ, it is wise to establish some boundaries. First and foremost, we should never indulge in sinful activities in the name of witnessing. The gospel should be shown with our actions as much as it is spoken with our words. My friend, Toma, always says, “Your talk talks and your walk talks but your walk talks more than your talk talks.”

It is also a good idea to let the non-believer know up front that you are devoted to Jesus. After all, we are not secret agents, but ambassadors for Christ. “We are therefore Christ’s ambassadors, as though God were making his appeal through us” (2 Corinthians 5:20a). Although we should establish who we are in Christ, it is helpful to develop a relationship before bombarding them with Scripture. By showing interest in their lives and getting to know them, we develop trust in the friendship. Keep in mind that a good fisherman hides the hook.

In realizing these truths, I began to pray for a heart like His. As a result, He enables me to see the lost through His eyes and care for them through His love. I am becoming more and more aware of how precious they are to Jesus. My heart hurts for those who don’t know my sweet Jesus. I long to see them embrace their maker, the giver of hope and joy. God is still working on me, but I am thankful that He is making my heart a little more like His each day.

Oh, and I simply must tell you… I recently pulled my car over to help a turtle cross the road. God is definitely working on me.

Ginger Plowman, author of Don’t Make Me Count to Three and Heaven at Home, speaks at women’s events and parenting conferences across the country. Visit her website at www.gingerplowman.com.


Back to Home
Read More..

Barack Obama and the Church Choice

Dr. Gary Scott Smith
Grove City College
December 3, 2008

The question of where Barack Obama and his family will go to church after he takes office is attracting a lot of media attention. As the author of "Faith and the Presidency: From George Washington to George W. Bush," I was recently interviewed by the “Washington Post” and the “Times of London” to help provide historical context for articles. While Americans have displayed a great deal of interest in where their presidents have attended church while in office, never before has there been such fascination with this issue before a president’s inauguration.

Three major reasons account for this. The first is Obama’s charisma and personal charm. During the campaign, John McCain disparagingly compared his rival’s celebrity status to that of Paris Hilton and Britney Spears. Few presidents-elects have enjoyed such extensive and positive media coverage as Obama.
The second reason is that during the campaign, Obama both emphasized his Christian faith and severed ties with a church he had belonged to for 20 years—Trinity United Church of Christ in Chicago—because of inflammatory statements by one of its pastors, Jeremiah Wright. While campaigning, Obama repeatedly stressed that his faith affects his policies and appealed much more effectively to evangelical Protestants and conservative Catholics than did Al Gore or John Kerry. Obama participated in several faith forums during the Democratic primaries and, along with McCain, in one hosted by megachurch pastor Rick Warren in August.
The third reason that Obama’s potential church choice has been so newsworthy is that numerous churches in Washington have been actively trying to recruit the president-elect and his family. United Church of Christ, Methodist, nondenominational, and historic black congregations have all extended invitations to the Obamas to attend their services. In “The Faith of Barack Obama,” Stephen Mansfield describes him as an “Everyman in a heroic tale of spiritual seeking,” who many Americans find to be either “a fellow traveler” or a leader in “a new era of American spirituality.” The eclectic nature of Obama’s spiritual pilgrimage, coupled with his coming to Washington unaffiliated with a denomination, has increased the competition among congregations for the involvement of the president-elect and his family.
One reporter asked me whether Obama might choose not to attend any church. This seems highly unlikely for several reasons. Most importantly, he claims that his faith is genuine and that he gains insight and direction from worship and prayer. Moreover, although his record of church attendance has been irregular at times, he appears to want to provide a church home and experience for his family. Obama’s desire to set a good example and his need to maintain positive relations with religious conservatives, many of whom dislike his stances on various moral and political issues, also make his regular church attendance likely.
Many presidents have attended church regularly while in office. George Washington, who attended only sporadically before becoming president, rarely missed a Sunday in either New York or Philadelphia. John Quincy Adams worshipped at Presbyterian, Episcopal, and Unitarian congregations in Washington, often attending the services of different denominations in the morning and evening. Although he first joined a church two weeks after becoming president, Dwight Eisenhower’s faithful attendance at National Presbyterian Church received much media attention. Jimmy Carter worshipped almost every Sunday no matter where he was—traveling abroad or at home, at Camp David, or at First Baptist Church in Washington, where, continuing a life-long pattern, he often taught Sunday school. Bill Clinton provided many photo ops with his Bible at Foundry United Methodist Church.
On the other hand, some presidents, most notably Franklin Roosevelt and Ronald Reagan, rarely attended church. Roosevelt served as the senior warden of St. James Episcopal Church in Hyde Park, New York the entire time he was president and devoted a significant amount of time and energy to this position. Nevertheless, he only worshipped about once a month, usually at St. John’s Episcopal Church, known as the “church of the presidents,” because many of the early chief executives beginning with James Madison worshipped there. Roosevelt claimed it was difficult to worship God with so many people staring at him. “I can do almost everything in the ‘Goldfish Bowl’ of the president’s life,” he declared, “but I’ll be hanged if I can say my prayers in it.
Reagan attended church regularly as governor of California and after leaving the presidency. He frequently spoke about his personal faith, and enjoyed strong support from the religious right. However, after being shot on March 30, 1981, Reagan rarely attended church during the remainder of his two terms. Reagan claimed that he yearned to go to church but did not want to endanger and inconvenience other worshipers. He feared that his entourage of Secret Service agents, police, SWAT teams, and reporters would distract others from worshiping. Both Roosevelt and Reagan claimed they often felt ill at ease in church, worrying that their presence made it hard for others to worship.
The competition among congregations for the Obamas will likely continue until they choose a church. They probably will attend either a church that has a racially mixed congregation and/or emphasizes social-justice issues. While Christians hope that the Obamas will worship regularly, they are equally concerned that the new president faithfully reads the Bible, seeks God’s strength and guidance through prayer, and strives to base his policies on biblical principles.

Source : Crosswalk

Related Links

* "I'm Pagan and I Vote" -- Dr. Paul Kengor
* God and Barack Obama -- Dr. Paul Kengor
* Can Obama Win the 'Values Voter?' -- Dr. Paul Kengor
* Defender of Faith? Britain's Postmodern Prince -- Albert Mohler

Back to Home

Read More..

Uang: Berkah atau Musibah?

Di setiap penghujung tahun, banyak sahabat yang menghitung kembali isi kantongnya. Bagi yang memiliki sisa tabungan besar, bisa berinvestasi atau memilih menikmati hidup dengan berbagai variasinya. Bagi yang pas-pasan, mungkin memikirkan soal utang, dan pilihan lain. Apa pun kondisi dan pilihan yang diambil, jarang sekali ada manusia mana pun di zaman ini yang berani sombong dan mengemukakan bahwa ia sama sekali tidak butuh uang.

Miskin-kaya, tua-muda, desa-kota, semuanya membutuhkan uang sebagai sarana (alat) hidup. Entah kapan mulainya, siapa yang memeloporinya, uang berperan melebar jauh dari sekadar sarana hidup. Ada bahkan yang menyebutkan bahwa uang sudah berubah wajah menjadi dewa yang amat berkuasa.
Demikian berkuasanya, sampai-sampai semua hal (dari persahabatan sampai berdoa pun) hanya ditujukan untuk mengumpulkan uang.
Dengan tetap sadar akan bahayanya penghakiman, atau pemberian stempel buruk pada cara hidup yang berbeda, adalah hak setiap orang mengarahkan hidupnya untuk apa. Termasuk memperuntukkan hidupnya bagi uang. Saya menghargai cara hidup yang berbeda, sebab dengan perbedaan hidup menjadi kaya nuansa.
Hanya saja, izinkan saya berbagi sedikit kejernihan pada banyak sahabat tentang uang.
Bagi siapa saja yang pernah melalui tangga-tangga hidup dari bawah, pernah merasakan melalui tangan pertama bagaimana uang itu hadir dalam kehidupan sebatas sebagai sarana saja. Ketika uang itu satang diawal bulan, yang terpikir hanya sarana. Sebab yang terbeli memang hanya sebatas sarana kehidupan seperti pangan, sandang dan papan saja. Belum disiplin mengelola nafsu tentunya, namun karena uangnya serba terbatas, dan alternatif berutang terlalu beresiko, maka disiplin diri seolah berkunjung dengan sendirnya. Entah bagaimana orang lain merasakannya.
Apa yang kami rasakan sekeluarga, dalam keterbatasan uang, sang nafsu sepertinya takut berkunjung. Tubuh ini juga seperti sangat tahu diri.
Namun, begitu pintu-pintu uang terbuka sedikit lebih lebar, nafsu semakin rajin datang dan tubuh ini jadi tambah liar. Seolah-olah ia sedang bertutur, semakin banyak uang yang dimiliki, semakin tinggi godaan yang datang dari nafsu dan tubuh ini.
Tentu saja kesimpulan itu terlalu menyederhanakan, sebab ada juga orang yang uangnya banyak, dan pada saat yang sama Cuma sulit mengingkari kenyataan bahwa dalam hidup tidak sedikit orang, uang lantas mendatangkan keliaran-keliaran yang tidak terkendali. Saya memiliki sahabat dan juga kerabat jenis ini yang jumlahnya tidak sedikit.
Dalam sekala hidup seperti itu, uang tidak hadis sebagai berkah,melainkan justeru menjadi musibah. Isteri yang dulunya kelihatan cantik, begitu uangnya berlimpah, menjadi tidak menarik. Rumah yang dulunya menjadi surga berkah, kemudian terasa gerah dan sempit. Hubungan dengan teman dan kerabat yang dulunya dilingkupi persabahatan yang tulus, tiba-tiba digantikan oleh lingkungan yang sangat materialistis. Bahkan kualitas doa pun menurun. Dulu ruang-ruang doa terbatas pada hal-hal fundamental sekaligus mendasar seperti kesehatan, kerukunan, kebahagiaan.
Ketika uang bertambah, ruang-ruang doa melebar menjadi tidak terbatas terutama disebabkan oleh keserakahan. Bahkan, bukan tidak mungkin anak-anak yang dulunya tulus dan polos memandang orangtuanya, kemudian menjadi liar dan menyulitkan.
Bercermin dari sini, bisa dimaklumi kalau ada sahabat jernih bertutur: “ Oh uangku, engkau bisa membuat kawan jadi lawan, sekaligus bisa membuat lawan jadi kawan. Engkau bisa mengusir kecemasan, bisa juga mendatangkan kecemasan baru yang lebih besar”. Ini berarti, tidak saja miskin butuh persiapan, tetapi menjadi kaya juga butuh persiapan. Bahkan bisa dikemukakan, menjadi kaya membutuhkan persiapan yang lebih besar dibandingkan menjadi miskin.
Tanpa persiapan yang memadai, kekayaan materi sering diikuti oleh banyak jenis musuh kejernihan dan kebahagiaan.
Keserakahan, kesombongan, keakuan, ketakutan, keculasan, kecurangan hanyalah sebagian hal yang masuk dalam daftar ini.
Dengan demikian, kebahagiaan dan kejernihan bukannya dibuat tambah dekat, tetapi malah menjauh secara meyakinkan.
Kaya secara materi tentu saja bukan sebuah kekeliruan, khususnya bila proses memperolehnya benar dan tidak diikuti oleh keterikatan yang membabi buta.
Namun semua ini menghadirkan pelajaran, jumlah uang yang meningkat sebaiknya diikuti oleh kesadaran yang juga meningkat.Jangankan uang, tanpa kesadaran memadai, bahkan kebaikan pun bisa berujung pada kesombongan yang mencelakakan.
Disini letaknya seni hidup. Semua hal menghadirkan dualitas pada saat yang sama. Dualitas itu tidak ditujukan untuk menjebak dan memerangkap, namun lebih pada kesempatan bagi manusia untuk melukis kehidupan kedalam sebuah karya seni besar.
Ada sahabat yang pernah bergumam begini: “Siapa saja yang melakoni kehidupan dengan penuh kesadaran , ia sedang mengubahnya ke dalam sebuah karya seni”.
Tidak saja tulisannya, tingkah lakunya, tutur katanya, keteladannya, bahkan diamnya pun memberi inspirasi keindahan bagi kehidupan. Ada yang menyebut kehidupan seperti itu mirip dengan buku suci yang berjalan. Ada juga yang mengibaratkan dengan lukisan yang indah dan hidup.
Dalam sebuah kesempatan, ada yang berbisik begini: “Siapa saja yang menyediakan ruang kesadaran di dalam hatinya, ia akan menemukan tempat menginap di mana-mana”.
Adakah berkah yang lebih tinggi dari hidup seperti ini?

Sumber: Jalan-jalan penuh keindahan;Gede Prama

Back to Home
Read More..

The Happiness News