Tampaknya aneh, tetapi menyanyikan lagu Natal yang sama, tahun demi tahun adalah menyenangkan. "O Little Town of Bethlehem" adalah salah satunya. Ia tidak pernah berhenti untuk dibicarakan seperti orang melukis banyak gambar visual dalam kata-kata. Saya menerima keindahan ini, ketukkan sedehana dan musiknya dengan sukacita di hati saya .Namun, pada suatu hari ketika saya menyanyikan lagu itu dan air mata pun mengalir, demikian kata Lucy Neeley Adams. Saya mengoles pipi saya dengan sebuah tissue, karena saya bernyanyi dengan semangat yang baru dan sukacita yang lebih besar. Sesuatu telah berubah. Ini adalah pertama kalinya saya menyanyikan pujian yang menimbulkan perasaan cinta ini, di tempat yang sangat khusus - Kota Bethlehem kecil yang sesungguhnya.
Saya dan suami saya dengan teman-teman telah bepergian bersama dari gereja kami di Tennessee. Ini adalah bukti bahwa setiap orang telah disentuh secara dalam oleh Roh Allah. Kami duduk di dalam Gereja Kristus yang dibangun diatas suatu tempat di mana itu dipercaya sebagai tempat Yesus dilahirkan. Mendengar tentang Bethlehem tidak sama dengan menjadi bagian darinya. Membaca tentang kelahiran Yesus tidak sama dengan beribadah di Bethlehem.
Hal ini mungkin merupakan suatu reaksi yang sama, yang dialami oleh Phillips Brooks, penggubah dari lagu Natal yang terkenal itu. Dia adalah pendeta dari Holy Trinity Church Kudus di Philadelphia telah mengunjungi Bethlehem pada Desember 1865.
Beberapa tahun kemudian, ketika ia ingin mengarang lagu Natal yang baru untuk anak-anak bernyanyi di gereja, dia ingat kembali di masa lampau, inspirasi dari Tanah Suci yang dikunjunginya. Syair yang ia tulis, dilukiskan dalam kata-kata dari pemandangan dan keramaian kota kecil Bethlehem yang dia dikunjungi.
Apa yang datang dari penanya, adalah sebuah pujian Natal yang hidup dan telah menjadi terkenal di seluruh dunia :
"O little town of Bethlehem,
How still we see thee lie.
Above thy deep and dreamless sleep
The silent stars go by..."
Kemudian ia meminta organist gereja, Lewis Redner, untuk mengarang melodi sederhana untuk anak-anak bernyanyi pada malam hari Natal. Mr.Redner duduk dekat piano untuk menemukan nada yang tepat , selaras dengan gambaran kata-katanya.
Tetapi nampaknya tidak cocok. Sebelum malam hari Natal ia merasa dikalahkan, sehingga ia pergi ke tempat tidur. Selama tidur yang menjengjelkan itu, ia mendengarkan musik. Segera, dia bangun dan catat melodi yang sama seperti yang dinyanyikan hari itu. Ketika ia dengan penuh kegembiraan menyajikan kepada Pendeta Brooks katanya: "Saya pikir itu adalah hadiah dari surga." Anak-anak mendengar seperti sebuah paduan suara malaikat seperti mereka bernyanyi sebuah nyanyian yang baru saja ditulis untuk mereka. Kami diberkati untuk terus bernyanyi lagu tersebut lebih dari seratus tahun kemudian.
Pendeta dari Holy Trinity , Phillips Brooks, dilahirkan di Boston, pada 1825 dan dididik di Harvard. Dia adalah seorang yang mencintai dan menghormati Pengabar Injil. Setelah melayani beberapa gereja Episkopal di Philadelphia dan Boston, ia diangkat sebagai Uskup dari wilayah tersebut.
Seorang laki-laki raksasa, yang tingginya 6 feet-8 inci, juga memiliki jiwa besar, mempunyai rasa sayang yang sama kepada orang tua maupun muda. Ada mainan di kantornya untuk anak-anak yang mengunjunginya. Ini adalah suatu pemandangan yang lazim, Uskup duduk di lantai bermain permainan dengan sekelompok anak-anak.
Dia tidak pernah menikah tetapi anak-anak orang, menjadi seperti keluarganya Ketika dia meninggal dunia mendadak pada tahun 1893, pada usia 58, semua orang dibanjiri dengan kesedihan. Ia adalah seorang anak yang mengubah kematiannya dalam cahaya yang indah. Ketika memberitahu ibunya bahwa Uskup Brooks telah pergi ke surga, dia hanya berkata, "Oh Mama, betapa bahagianya hati para malaikat."
Dalam keindahan, "O Little Town of Bethlehem" adalah salah satu janji Allah seperti nubuat nabi Mikha: "Tetapi engkau hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mikha 5:1).
Ayat terakhir adalah sebuah doa. Bahkan, sebuah doa Natal yang betul-betul mempesona yang dinyanyikan dengan semangat penginjilan:
"O Holy Child of Bethlehem,
Decend to us, we pray.
Cast out our sin, and enter in,
Be born in us today.
We hear the Christmas angels,
The great glad tidings tell.
Oh come to us, abide with us,
Our Lord Emmanuel!"
Saya berterima kasih, ya Allah, untuk mengirimkan Putra-Mu yang dikasihi, Yesus, lahir di Bethlehem. Saya juga berterima kasih bahwa hati saya telah menjadi tempat kelahiran-Nya. Di dalam nama Yesus, Amin.
Source : CrossWalk: Translated by Samuel Uniwaly
BACK TO HOME
Read More..


















