MICHAEL JACKSON DAN “CHILD ABUSE”

Cinta, gelombang kasih yang tulus hingga usia tengah abad/selebihnya hanya kau yang tahu....
Mungkin hanya kebetulan saja penggalan lirik lagu "Tembang Lestari" karya Leo Kristi di atas seolah mengingatkan kita pada nasib tragis mahabintang Michael Jackson yang tewas pada usia yang baru saja lewat setengah abad.


Lagu ini dinyanyikan dengan amat indah oleh Berlian Hutauruk dan pianis Yockie Suryoprayogo di Bentara Budaya Jakarta, Senin (29/6) malam. Sayangnya, lirik ”lanjutkan usiamu, lanjutkan semangatmu...” tidak berlaku lagi Jacko....

Hingga kini penyebab kematian Michael Jackson (MJ) masih simpang siur. Jaringan televisi Fox hari Minggu petang melaporkan bahwa MJ meninggal karena henti jantung (cardiac arrest), diduga akibat ia meminum secara cocktail atau sekaligus tujuh jenis obat-obat keras yang harus diresepkan dokter. Tiga di antaranya adalah narkotik analgetik (penghilang rasa sakit), yaitu Demerol, Dilaudid, dan Vicodin. Empat obat lainnya masuk kategori antidepresan, antitukak lambung, relaksan otot, dan sedatif.

Menurut pakar farmakologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr. Rianto Setiabudhi, tiga jenis narkotik analgetik yang dikonsumsi MJ seharusnya tidak menimbulkan efek melemahnya denyut jantung hingga henti jantung, hanya menimbulkan depresi napas dan efek sedasi (mengantuk). Namun diakuinya, Demerol (yang mengandung meperidin), Dilaudid (hidromorfon), dan Vicodin (hidrokodon parasetamol) dapat menimbulkan adiksi (kecanduan).

”Mungkin Michael Jackson menderita nyeri tubuh yang kita belum tahu di mana sehingga ia meminum tiga jenis narkotik penghilang rasa nyeri itu sekaligus. Ia mungkin juga menderita depresi, dan henti jantung justru kemungkinan besar ditimbulkan oleh antidepresan yang diminumnya,” tutur Prof Rianto. Antidepresan mengakibatkan denyut jantung MJ memanjang dan aritmia ventrikel atau bilik jantung berdenyut tak teratur, hingga tiba pada suatu situasi yang disebut torsade de pointes atau irama denyut jantung melambat dan berakhir dengan henti jantung.

Fatamorgana

Nasib tragis dan kematian MJ seolah mengulang cara kematian maharaja rock ’n roll Elvis Presley karena overdosis obat-obat penenang. Kebetulan MJ menikahi putri tunggal Elvis, Lisa Marie Presley, tahun 1994-1996. Kepada Lisa Marie, MJ pernah menyatakan kekhawatirannya akan meninggal mendadak seperti Elvis. Sungguh semacam self-fulfilling prophecy atau nubuat yang tergenapi dengan sendirinya....

Menyibak sebab musabab kematian MJ, tak bisa tidak, kita harus menelusuri masa kecilnya. Kuat dugaan, luka batinnya akibat child abuse yang dilakukan ayah kandungnya, Joseph Jackson, justru lebih serius ketimbang sakit fisiknya. ”Kita mesti melihat Jacko dari masa kecilnya. Dari film biografi keluarga Jackson, kita dapat menyimak sedikit psikodinamika kehidupannya,” demikian dr Nalini Muhdi, psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang semalam menuliskan e-mail tentang MJ dari Hongkong.

Kendati demikian, Deepak Chopra, guru rohani yang juga dokter dan sahabat MJ, menyatakan bahwa sejak tahun 2005 ia mengkhawatirkan penyalahgunaan narkotik analgetik oleh MJ ketika bintang ini tinggal bersamanya. Waktu itu Chopra mendampingi MJ ketika menjalani persidangan tuntutan sex abuse terhadap anak-anak kecil. Majalah Newsweek (edisi 6-213 Juli 2009) melaporkan sebuah apotek di Los Angeles tahun 2007 menagih utang 100.000 dollar AS untuk obat-obat resepnya selama dua tahun.

Selain obat-obatan, MJ mengalami masalah keuangan yang serius. Tahun 2008 ia gagal membayar utang sebesar 24,5 juta dollar AS, hingga ranch-nya di Neverland nyaris ditutup. Konser-konser come back-nya keliling dunia yang menurut rencana akan dimulai di London, Juli ini, diperkirakan tak akan menutup utangnya.

Betapapun, menurut dr Nalini, MJ memang hebat. Paling tidak, untuk rentang waktu tertentu ia mampu ”mengalahkan” luka batinnya, masa kecilnya yang terkoyak, lewat prestasinya dalam dunia musik pop dunia. MJ yang kaya, yang tersohor, dengan sederet prestasi gemilangnya, ternyata berakhir hidupnya dalam gelimang sunyi yang sulit dimengerti awam. Gaya hidupnya yang aneh dan menutup diri, mencari dan mencari sesuatu untuk mengisi emosi yang kosong. Ia seperti selalu mengejar fatamorgana

Semasa kecil, konon MJ harus berlatih keras dan disiplin kaku yang melebihi kapasitas yang dapat disangga seorang anak kecil. Ayahnya mahakeras mendidik anak-anaknya, hampir mereka kehilangan masa kecil yang indah dan ceria, terlambat latihan akan diganjar gebukan ayahnya. ”Cinta kepada ayahnya sedikit demi sedikit tergerus dan digantikan kebencian. Kendati akhirnya mereka berhasil dalam prestasi menyanyi, luka jiwanya yang tak terperi masih terus meninggalkan parut tajam di ingatannya,” ujar dr Nalini.

Dikatakan, child abuse (perlakuan salah terhadap anak) memang bukan perkara sederhana seperti banyak orang memandang dan berpikir selama ini. Child abuse adalah sebuah tragedi kehidupan. Luka fisik bisa terobati, tetapi luka batin meninggalkan jejak panjang seumur hidup yang mau tidak mau membutuhkan bimbingan yang akurat. Child abuse sebagai bagian kekerasan dalam rumah tangga mengakibatkan banyak parut gangguan mental emosional. Pribadi korban menjadi rapuh, citra diri yang buruk, merasa tidak berdaya, marah, sedih, bingung, penuh kecemasan, depresi, dan yang lebih berat lagi.

”Kendati Jacko lantas sukses, tapi pijakannya rapuh dan gampang goyah. Self-esteem yang buruk diatasinya dengan pencapaian-pencapaian di dunianya. Dunia hiburan yang penuh gemerlap dan banyak kegembiraan semu menawarkan pelipur lara kehidupannya, tetapi hanya sementara. Self-esteem yang buruk tersebut lantas membuahkan gangguan body image (body dysmorphic disorder) pada Jacko. Terbukti bagaimana ia mencoba berganti-ganti mengubah penampilan lewat bedah plastik. Jacko yang sebetulnya tidak jelek itu selalu merasa tidak puas dengan tubuhnya dan umumnya disertai dengan gangguan depresi. Jacko merasa tidak berdaya di tengah keberdayaannya di dunia hiburan. Dengan demikian, ketika tiba saatnya bintang itu meredup seiring dengan berjalannya waktu, Jacko limbung,” papar dr Nalini

Mungkin MJ menggantungkan pride-nya pada gegap gempita tepuk tangan penggemar. Ketika tepuk tangan itu tak terdengar lagi, ia jadi linglung dan kosong. Sesuatu yang kerap terjadi pada beberapa bintang pop, mengidap ”sindrom primadona”. Nyeri sekali menyadari kenyataan bahwa tak ada lagi riuh rendah dan puja-puji penggemar. Apalagi dilandasi kepribadian yang memang rapuh. ”Maka, tak heran kesunyian adalah bencana yang tak tertahankan, depresi menindas hidupnya,” lanjut dr Nalini.

Sumber : KOMPAS

BACK TO HOME


Read More..

KEKALAHAN, KEMENANGAN, KEINDAHAN

Entah sejak kapan, sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan.
Di Jepang dan berbagai belahan dunia, banyak orang mengakhiri hidupnya hanya karena kalah. Hal-hal yang melekat pada kekalahan dinilai serba negatif: jelek, hina.
Sekolah sebagai tempat untuk menyiapkan masa depan juga ikut-ikutan. Melalui program serba juara, sekolah menguatkan keyakinan ”kalah itu musibah”. Tempat kerja juga serupa, tak ada yang absen dari kegiatan sikut-sikutan

Semua mau naik pangkat, tak ada yang ingin turun. Terutama dunia politik, kekalahan hanyalah kesialan. Dan aroma seperti inilah yang mewarnai Indonesia pada awal April 2009, menjelang pemilu dan pilpres.

Kalah juga indah

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar, pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Tapi, seberapa besar energi dan semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya.

Karena itu, orang bijaksana melatih diri untuk tersenyum di depan kemenangan maupun kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun, bila kalah, hanya senyuman yang memuliakan perjalanan.

Dihormati karena menang itu indah. Namun, tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang mendalam pandangannya yang bisa melakukan. Sebagian orang bijaksana malah bergumam, kekalahan lebih memuliakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Di depan kekalahan, manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan. Kekalahan di jalan ini berfungsi menghaluskan.

Kesabaran, kerendahhatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Ia yang sudah membuka pintu ini akan berbisik, kalah juga indah!

Jarang terjadi ada manusia mengukir makna mendalam di tengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah membuat manusia lupa diri. Para pengukir makna yang mengagumkan, seperti Kahlil Gibran, Jalalludin Rumi, Rabindranath Tagore, Thich Nhat Hanh, semuanya melakukannya di tengah kesedihan. HH Dalai Lama bahkan menerima Hadiah Nobel Perdamaian sekaligus penghargaan sebagai warga negara kelas satu oleh Senat AS setelah melewati kesedihan dan kekalahan puluhan tahun di pengasingan.

Memaknai kekalahan

Mengukir makna memang berbeda dengan mengukir kayu. Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara realitas sebagaimana apa adanya dan kebiasaan seseorang mengerti (habit of undestanding). Ia yang biasa mengerti dalam perspektif tidak puas, serba kurang, selalu menuntut lebih, akan melihat kehidupan tak menyenangkan ada di mana-mana. Sebaliknya, ia yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas, tulus lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.

Belajar dari sini, titik awal memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan dalam mengerti, the blueprint is found within our mind. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian akan memperpanjang penderitaan yang sudah panjang.

Seorang guru mengambil gelas yang berisi air, meminta muridnya memasukkan sesendok garam dan diaduk. Saat dicicipi, asin rasanya. Setelah itu, guru ini membawa murid itu ke kolam luas dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air kolam dan rasanya tidak lagi asin.

Itulah batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi), kehidupan pun menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Saat batinnya luas, tak satu hal pun bisa membuat kehidupan menjadi mudah asin.

Dengan modal ini, lebih mudah memaknai kekalahan bila manusia berhasil mendidik diri berpandangan luas sekaligus bebas. Berusaha, bekerja, belajar, berdoa adalah tugas kehidupan. Namun, seberapa pun kehidupan menghadiahkan hasil dari sini, peluklah hasilnya seperti kolam luas memeluk sesendok garam.

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal, dan hidup-mati hanyalah wajah putaran waktu. Persis saat jam menunjukkan pukul 06.00, saat Matahari terbit. Pukul 18.00, putaran waktu Matahari tenggelam. Memaksa agar pukul 06.00 Matahari tenggelam tidak saja akan ditertawakan, tetapi juga korban karena kecewa.

Memang terdengar aneh. Pejalan kaki yang sudah jauh ke dalam diri bila ditanya mau kaya atau miskin, akan memilih miskin. Atas menang atau kalah, ia akan memilih kalah. Kaya adalah berkah, namun sedikit ruang latihan di sana. Meski ditakuti banyak orang, kemiskinan menghadirkan daya paksa tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakan besar sekali. Nyaris semua orang tak ingin kalah, tetapi kekalahan adalah ibu kesabaran.

Seorang guru meditasi yang sudah sampai di sini pernah berbisik, finally I realize there is no difference between mind and sky. Inilah buah meditasi. Batin menjadi seluas langit. Tidak ada satu awan (awan hitam kesedihan, awan putih kebahagiaan) pun yang bisa mengubah langit. Dan ini lebih mungkin terjadi dalam manusia yang sudah berhasil memaknai kekalahan.

Oleh : Gede Prama
SUMBER: KOMPAS, 25 April 2009

BACK TO HOME
Read More..

SENI KEBAHAGIAAN MENURUT DALAI LAMA

“ Kita masing-masing memiliki fisik, pikiran, dan emosi. Kita semua dilahirkan dengan cara yang sama, dan kita semua akan mati. Kita semua ingin berbahagia dan tidak ingin menderita.
Saya yakin, menggunakan waktu dengan cara yang tepat adalah demikian: bila mungkin, bantulah orang lain dan makluk-makluk berperasaan lainnya. Bila tidak, setidaknya tahanlah diri untuk tidak menyakiti mereka. Saya rasa itulah dasar utama filosofi saya." - Dalai Lama

“Semakin lama saya semakin yakin bahwa Dalai Lama telah mengetahui cara menjalani hidup dengan rasa pemenuhan dan tingkat ketenangan yang belum pernah saya lihat dalam diri orang lain…
Walau ia seorang bikkhu Buddha…saya mulai berpikir, andai seorang mampu merumuskan keyakinan atau latihan yang dapat dilaksanakan oleh orang-orang non Buddha-latihan yang dapat diterapkan secara langsung ke dalam hidup untuk membantu kita menjadi lebih bahagia, lebih kuat, dan mungkin, tidak terlalu merasa takut.” – Howard Cutler

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang seorang psikiater yang bertemu dengan bikkhu Buddha? Biasanya pertanyaan ini digunakan untuk membuka sebuah humor segar, mungkin juga melibatkan dipan dan mangkok pengemis. Namun dalam hal ini, pertanyaan itu merupakan dasar bagi sebuah buku.

The Art of Happiness adalah kolaborasi antara Howard Cutler, seorang psikiater terkemuka, dengan Yang Mulia Dalai Lama. Buku ini merupakan paduan antara pemikiran Dalai Lama tentang berbagai pokok persoalan dengan refleksi pribadi dan ilmiah Cutler terhadap pokok persoalan yang sama.

Sifat dan Sumber Kebahagiaan
Cutler memulai dengan keyakinan tertentu yang berlatar belakang ilmiah Barat, seperti kebahagiaan merupakan sebuah misteri dan yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghindari kesengsaraan. Setelah melewati banyak percakapan, Dalai Lama berhasil meyakinkan Cutler bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah kemewahan melainkan tujuan eksistensi kita – bukan hanya itu, bahkan ada sebuah jalan yang menuju ke kebahagiaan. Kemudian kita harus mengurangi faktor yang menjadi penyebab kesengsaraan dan menumbuhkan faktor yang memicu kebahagiaan.

Hal yang paling mengejutkan tentang kebahagiaan adalah bahwa pencapaiannya ternyata bersifat “ilmiah” serta membutuhkan disiplin, sebagaimana diungkapkan oleh Cutler:
“Saya menyadari bahwa sejak awal, percakapan kami telah bernuansa klinis, seolah saya sedang menanyakan padanya anatomi tubuh manusia, hanya saja dalam hal ini, antomi pikiran dan jiwa manusia..”

Berikut ini adalah beberapa poin dalam The Art of Happiness:

• Ada beberapa tingkat kebahagiaan. Dalam Buddhisme, ada empat faktor – kekayaan, kepuasan duniawi, spiritualitas, dan pencerahan – yang merupakan “totalitas pencarian suatu individu akan kebahagiaan”. Kesehatan yang baik dan sahabat juga merupakan hal yang penting, tetapi yang paling utama dari semua itu adalah keadaan pikiran Anda. Pikiran tidak hanya berperan menciptakan pengalaman hidup Anda, tetapi juga sebagai filter saat Anda melihat pengalaman hidup Anda. Tanpa pikiran yang disiplin, Anda tidak bisa sepenuhnya mengendalikan apa yang sedang Anda lakukan, ataupun membebaskan diri dari segala peristiwa saat Anda menginginkannya. Sumber sejati kebahagiaan adalah kesadaran yang terkendali. Pikiran yang tenang, misalnya, atau terlibat dalam pekerjaan yang berarti, dapat membawa Anda menuju kebahagiaan.

• Sebuah cara mendasar untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menumbuhkan afeksi dan relasi dengan orang lain. Bahkan andaikan Anda kehilangan segalanya, Anda masih memiliki dua hal ini. Dalai Lama mengisahkan bahwa saat ia kehilangan negerinya, ia di sisi lain mendapat dukungan dari seluruh dunia, karena ia memiliki kemampuan bersahabat dengan orang lain dalam waktu yang singkat. Carilah persamaan Anda dengan orang lain, maka Anda tidak akan pernah merasa kesepian.


• Betapa pun kuatnya, emosi dan pikiran negatif tidak berpijak pada kenyataan. Emosi dan pikiran negatif hanyalah distorsi yang membuat kita tidak bisa melihat keadaan yang sesungguhnya. Kita akan hanya merasa malu dan menyesal setelah lepas kendali dan menyadari keadaan yang sesungguhnya. Saat pikiran kita berada dalam keadaan positif, secara umum kita akan semakin dekat dengan sifat sejati alam semesta dan kita bisa terus seperti itu sepanjang waktu. Seluruh emosi, bila dilatih secara berkala, akan tumbuh dalam ukuran yang wajar. Dalai Lama terus menyarankan agar kita menumbuhkan pikiran positif – seperti kebiasaan baik yang dimulai dari halkecil, pada akhirnya akan menghasilkan manfaat besar.

• Keadaan pikiran yang positif tidak hanya baik untuk Anda, melainkan juga bermanfaat bagi orang yang berhubungan dengan Anda, dan mengubah dunia. Betapa pun sulitnya, kurangi keadaan negative pikiran Anda dan tingkatkan keadaan positifnya.

• Bertindak “benar” sebagai kebalikan dari bertindak yang “tidak benar” bukan masalah moralitas atau pun agama, melainkan perbedaan mutlak antara kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Dengan melatih diri, Anda dapat mengembangkan sebuah “hati yang baik” yang akan memperkecil kesempatan Anda bertindak dalam cara yang tidak produktif.

• Jangan keliru membedakan kebahagiaan dengan kesenangan. Kesenangan berkaitan dengan indra dan bisa terlihat seperti kebahagiaan, namun tidak memiliki arti. Kebahagiaan, sebaliknya, memiliki arti dan sering kali dirasakan walaupun berada dalam kondisi eksternal yang negatif. Kebahagiaan bersifat stabil dan tetap. Kesenangan ibarat bonus dalam kehidupan, tetapi kebahagiaan adalah sebuah keharusan.

• Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus terus dikembangkan dari waktu ke waktu. Pencarian yang sistematis terhadap sebab dan cara menuju kebahagiaan bisa jadi merupakan salah satu keputusan terpenting dalam hidup Anda, seperti memutuskan untuk menikah atau memulai sebuah karier, kata Cutler. Bila tidak, kebahagian akan datang dan pergi secara kebetulan, serta mudah diserang oleh ketidakbahagiaan. Para murid pencari kebahagiaan akan merasakan pengalaman yang baik dan yang buruk, tetapi mereka memiliki bekal yang lebih baik untuk kembali ke keadaan positif dengan lebih cepat, atau meningkatkan secara signifikan keadaan mental “normal” mereka ke tingkat yang lebih tinggi.

• Anda harus mencoba untuk tidak mengeluarkan emosi negatif secara terus menerus, terutama kemarahan dan kebencian, dan menggantinya dengan toletansi dan kesabaran. Pemikiran Dalai Lama tentangmengatasi pikiran negatif dengan cara menukarnya dengan pikiran positif telah disahkan dengan muncul dan suksesnya terapi kognitif, yang membuat orang mengganti cara pikir yang terdistorsi (misalnya, “hidup saya benar-benar berantakan”) dengan cara pikir yang lebih akurat (“hidup saya di bagian ini memang tidak bagus, di banyak bagian yang lain, bagus”).

Belas Kasih dan Relasi

• Sifat utama manusia, menurut Dalai Lama, adalah kelembutan. Ilmu pengetahuan dan filsafat sering menggambarkan manusia sebagai sosok yang hanya tertarik pada diri sendiri, tetapi sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia mau peduli terhadap sesamanya bila mereka memiliki kesempatan, misalnya usaha memberi pertolongan pada korban bencana alam. Kita bisa mengibaratkan seorang bayi sebagai contoh sempurna umat manusia, yang hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Tetapi bila dilihat dari sudut pandang yang lain, Anda akan melihat kegembiraan yang diberikan si bayi kepada orang-orang disekitarnya. Bila kita melihat dunia ini bukan sebagai sesuatu yang agresif melainkan pada dasarnya berbelas kasih, mudah saja membuktikannya.

• Belas kasih berbeda dengan rasa sentimental, belas kasih merupakan dasar komunikasi yang baik dengan orang lain. Sama seperti Dale Carnegie, Dalai Lama mengatakan bahwa hanya dengan sungguh-sungguh melihat dan merasakan segala sesuatu dari sudut pandang orang lain maka Anda akan sungguh terhubung dengan orang lain itu. Belas kasih bukanlah “merasa iba terhadap orang lain” melainkan merasakan kebersamaan – apa yang dirasakan oleh orang lain hari ini mungkin sajaakan Anda rasakan minggu depan.

• Dalai Lama tidak pernah “merasa kesepian”. Penawar rasa sepi adalah bersedia berelasi dengan siapa pun. Sebagian besar orang menganggap dirinya kesepian hidup dikelilingi oleh keluarga dan sahabat, tetapi mereka menaruh semua kerinduan mereka pada harapan menemukan “seseorang yang istimewa”. Bukalah mata Anda untuk melihat keanekaragaman manusia, katanya, dan rasa sepi akan segera menjadi sebuah masa lalu.

• Bedakan antara cinta berdasarkan pamrih dan cinta berdasarkan belas kasih. Seluruh umat manusia ingin berbahagia dan terhindar dari kesengsaraan; jangan menerima sesama karena Anda ingin dicintai mereka, melainkan mulailah melihat kesamaan kondisi seseorang dan apa yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kebahagiaan orang itu.

• Bila anda gagal menumbuhkan rasa belas kasih atau kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain, Anda kehilangan rasa memiliki terhadap umat manusia yang justru merupakan sumber kehangatan dan inspirasi. Merasakan penderitaan orang lain mungkin bukan sesuatu yang menarik, tetapi tanpanya berarti kita mengisolasi diri dari orang lain. Orang yang kejam, tidak pernah bisa merasa tenang, tetapi orang yang berbelas kasih menikmati pikiran yang bebas dan kedamaian.

The Art of Happiness, membuat Anda bertanya kepada diri sendiri: “Bagaimana cara Dalai Lama mengatasi situasi yang ia hadapi?” Sosok manusia yang telah kehilangan negaranya ini tidak menyemburkan hal-hal negatif, melainkan menyebarkan cahaya dalam kehidupan. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan Cutler yang sifatnya menyelidik itu, herannya, Dalai Lama sering kali menjawab “Saya tidak tahu”, terutama untuk kasus individual. Manusia adalah makluk yang kompleks, katanya, tetapi budaya Barat selalu mencari sebab dari segala sesuatu, yang dapat mengakibatkan agoni bila tidak berhasil menemukan jawabannya. Kita tidak akan memahami mengapa kehidupan berjalan sebagaimana sekarang ini ada dalam lingkup waktu kita.

Sudut pandang ini sebagian muncul dari keyakinan Dalai Lama akan reinkarnasi dan karma, namun bisa dipahami di luar doktrin Buddha. Tepatnya, kita tidak sepenuhnya memahami eksistensi kita, maka yang lebih penting adalah bersikap baik terhadap sesama dan menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik untuk dihuni. Dengan perintah sederhana ini, kita tahu pasti bahwa kita tidak akan salah langkah.

Sumber : 50 Self Help Classics by Tom Butler-Bowdon

BACK TO HOME


Read More..

SUDUT PANDANG PERORANGAN

Hal yang sama pentingnya dengan sudut pandang terhadap kehidupan sosial adalah sudut pandang Anda terhadap sesama manusia, rekan, teman, kerabat, keluarga langsung, dan yang terpenting, terhadap diri sendiri.

Anda harus belajar untuk tidak memandang dunia sebagai sesuatu yang tersesat dan membusuk, tetapi sebagai sesuatu yang sempurna dan mulia yang masih berkembang keutuhannya yang paling indah, dan Anda harus belajar melihat manusia bukan sebagai makhluk sesat dan terkutuk, tetapi sebagai makhluk-makhluk sempurna yang masih maju menuju keutuhan. Tidak ada orang “jahat” atau “buruk”.

Sebuah mesin lokomotif yang berada di rel dan menarik kereta yang berat adalah mesin yang sempurna untuk jenisnya dan ini baik adanya. Kekuatan uap yang mendorongnya adalah baik. Jika putusnya rel menjungkirkan lokomotif ke parit, tidaklah berarti mesin itu buruk atau jahat karena ia ada di luar jalur, ia adalah mesin baik yang sempurna, tetapi keluar dari jalur. Kekuatan uap yang mendorongnya ke parit dan menghancurkannya tidaklah jahat, tetapi kekuatan baik yang sempurna

Jadi, apa yang “ke luar jalur” atau diterapkan dengan cara yang tidak utuh bukanlah buruk atau jahat. Tidak ada orang jahat, yang ada adalah orang-orang baik yang sempurna yang keluar jalur, mereka tidak membutuhkan kutukan atau hukuman, mereka hanya perlu bangkit untuk kembali ke rel.
Apa yang belum berkembang atau belum utuh seringkali tampak sebagai jahat atau buruk karena cara pikir kita.

Akar sebuah umbi yang kelak menghasilkan bunga lili yang putih tampak tidak indah pada saat ini, mungkin orang jijik melihatnya.
Tetapi betapa bodohnya kita jika mengutuk umbi itu karena tampilannya saat ini padahal kita tahu bahwa ada bunga lili di dalamnya. Akar itu sempurna untuk jenisnya, ia sempurna tetapi ia adalah bunga lili yang belum utuh, jadi kita harus belajar melihat setiap manusia, terlepas dari betapa buruknya tampilan luarnya, mereka adalah sempurna di dalam tahap perkembangannya dan mereka sedang berkembang menjadi utuh. Lihatlah, semua baik adanya.

Sekali kita memahami kenyataan ini dan tiba di titik sudut pandang ini, kita kehilangan hasrat untuk menemukan kesalahan pada orang lain, menghakimi mereka, mengkritik mereka, atau mengutuk mereka. Kita tidak lagi bekerja seperti mereka yang menyelamatkan jiwa, tetapi sebagai mereka yang berada diantara para malaikat, mengerjakan penyelesaian kemuliaan surga. Kita lahir dari ruh dan kita melihat Cahaya Surga.

Kita tidak lagi memandang manusia sebagai pohon berjalan, tetapi penglihatan kita utuh. Kita tidak memiliki kata-kata lain untuk diucapkan selain kata-kata yang baik. Semuanya baik, kemanusiaan yang agung dan mulia berkembang menuju keutuhannya. Dan di dalam relasi kita dengan manusia, ini membawa kita ke sikap pikir yang meluas dan mengembang, kita melihat mereka sebagai makhluk-makhluk yang agung dan kita mulai menghadapi mereka dan masalahnya dengan cara yang hebat. Tetapi jika kita jatuh ke sudut pandang yang lain dan melihat manusia sebagai ras yang tersesat dan menuju kehancuran, kita menciut ke akal yang menciut, dan kita menghadapi manusia serta masalahnya juga dengan cara yang kecil dan ciut.

Ingatlah untuk tetap bertahan pada sudut pandang ini, jika Anda melakukannya Anda tidak akan gagal untuk segera menghadapi rekan, sesama, dan keluarga Anda sendiri sebagai pribadi-pribadi yang agung. Sudut pandang yang sama ini harus menjadi sudut pandang Anda terhadap diri sendiri. Anda harus selalu melihat diri Anda sebagai jiwa agung yang masih terus maju.

Belajarlah untuk berkata : “Ada SESUATU di dalam diriku dari mana aku dibuat, yang tidak mengenal ketidaksempurnaan, kelemahan, atau penyakit. Dunia belum utuh, tetapi Tuhan didalam kesadaranku adalah sempurna dan utuh. Tidak ada yang bisa salah kecuali sikap pribadiku, dan sikap pribadiku hanya bisa salah ketika aku tidak mematuhi SESUATU yang ada dalam diriku. Sejauh ini, aku adalah perwujudan sempurna dari Tuhan dan aku akan terus maju menjadi utuh. Aku akan percaya dan tidak takut”. Ketika Anda bisa mengucapkannya dengan penuh pemahaman , Anda akan kehilangan semua rasa takut dan Anda akan sangat maju di jalan perkembangan ke kepribadian yang agung dan penuh daya.

Sumber : The Science of Being Great/ Wallace D. Wattles

BACK TO HOME
Read More..

HUKUM KONSISTENSI

“Anda tidak menyanyi karena Anda bahagia; Anda bahagia karena Anda menyanyi.”
Ada arti yang sangat mendalam pada pernyataan ini, yang dibuat oleh ahli psikologi ternama William James.

Bagi saya, hal ini berarti bahwa cara seseorang merasakan sampai batas yang sangat besar bisa menentukan cara orang itu bertindak. Itu merupakan petunjuk satu lagi bahwa kita, sebagai individu, bukanlah tidak berdaya mengubah dan memperbaiki keadaan yang terus menerus kita hadapi dalam kehidupan.
Beberapa orang menyebut ini Hukum Konsistensi, atau hukum saling menanggapi.

Mula-mula tetapkanlah perubahan apa yang Anda inginkan agar terjadi dalam hidup Anda, atau pada diri Anda. Selanjutnya kembangkan sikap mental yang menjadi kebiasaan untuk menanggapi keadaan baru yang ingin Anda alami.
Beberapa orang akan mengalami kesulitan dengan gagasan ini, karena tidak mampu membentuk suatu sikap yang sama sekali asing bagi keadaan yang sedang terjadi.

Kalau ini terasa tidak bisa dipraktekkan, periksalah keadaan Anda sekarang dari segi pandangan yang obyektif. Apakah keadaan itu sesuai, atau bisa saling menanggapi dengan sikap mental Anda mengenai keadaan tersebut? Bagaimana tentang keadaan keuangan Anda? Apakah Anda merasa terperangkap dan merasa yakin bahwa tidak ada peluang untuk perbaikan? Kalau memang demikian, keadaan keuangan Anda hanya konsisten dengan sikap mental Anda yang menonjol.

Harus menjadi jelas bahwa sebelum suatu bidang dalam kehidupan Anda bisa meningkat menjadi lebih baik, sikap mental Anda terhadap hal itu harus berubah lebih dulu. Bagi beberapa orang, hal ini terasa seperti “menempatkan gerobak di muka kuda.”
Sebagai contoh, William James mengemukakan bahwa tindakan menyanyi sementara seseorang merasa tidak bahagia akan memberikan pengaruh kepada orang itu untuk menjadi bahagia.

Kita andaikan Anda sudah menetapkan sasaran memperbaiki keadaan keuangan Anda. Untuk memperkuat gambaran mental yang Anda buat tentang keadaan yang lebih baik, keluarkanlah uang sedikit lebih banyak untuk membeli sesuatu daripada yang biasanya Anda keluarkan. Itu hanya memerlukan lebih banyak beberapa ribu rupiah.
Kadang-kadang nikmatilah makan siang yang sedikit lebih mahal.

Ini semua merupakan tindakan positif yang akan membuktikan bahwa Anda yakin, hasil yang diinginkan pasti tercapai. Keraguan adalah penghambat besar terhadap pencapaian tujuan.

Pentingnya sikap mental positif seseorang dibuktikan oleh insiden berikut;
Seorang pria merasa sangat tidak bahagia dalam pekerjaannya. Disarankan kepadanya agar menuliskan segalanya yang dia sukai tentang pekerjaannya – ini merupakan tindakan positif. Dia protes bahwa boleh dikata tidak ada apa pun yang disukainya.

“Apakah Anda dibayar secara teratur”? dia ditanya.
“Ya, betul,” dia menjawab.
“Apakah Anda menyukai hal itu?”
“Ah, ya, hal itu saya sukai” jawabnya.
Dalam waktu singkat, dia berhasil menuliskan 17 hal yang disukai dalam pekerjaannya. Tidak lama kemudian, ditanya bagaimana perkembangan yang dialaminya.
“Ini benar-benar aneh,” dia menjawab. “Rasanya orang-orang yang bekerja bersama saya telah berubah.”
Kalau Anda terjebak dalam alur roda pedati dan Anda tidak bisa keluar dari sana, secara harfiah maupun figuratif itu memang benar. Selama bertahun-tahun biasa berpikir negatif menyebabkan terbentuknya “alur” di dalam otak Anda.


Mungkin Anda mempunyai keinginan yang tulus untuk menyalurkan pemikiran Anda sepanjang garis yang lebih positif – tetapi Anda mendapatkan hal itu sangat sulit, kalau tidak mustahil sama sekali. Pemikiran Anda secara otomatis akan kembali ke pola lama.

Hukum Konsistensi menyebabkan kita akan bisa mengubah keadaan yang tidak diinginkan dan juga memungkinkan orang bisa menjadi seperti yang didambakannya.
Yang diperlukan hanyalah kemampuan untuk mengontrol tindakan kita sehingga akan sesuai dengan keadaan baru dan sasaran yang kita tetapkan sendiri.

Jangan membuat kesalahan dengan bertanya-tanya dalam hati bagaimana perubahan ini terjadi menjadi lebih baik. Milikilah keyakinan bahwa hidup Anda pasti akan menyesuaikan diri dengan sikap yang Anda pegang terhadap hidup. Setelah itu bersiap-siaplah untuk bertindak dengan cara positif.

Lepaskan masa lalu dan janganlah Anda memberinya kekuatan untuk menguasai diri Anda. Pengalaman baru yang menyenangkan tidak datang karena kita menengok ke belakang, melainkan dengan melihat ke depan dan ke atas.

Sumber : Anda Adalah Apa Yang Anda Pikirkan - Doug Hooper
BACK TO HOME

Read More..